aj susmana

Sabtu, 13 September 2008

BALADA CINTA LENA

Aku mencintaimu

Di mana kita bertemu aku lupa

Kapan kita bertemu aku lupa

Mengapa aku mencintaimu

Aku tak pasti

Seingatku

Sejak kau bela dengan berani pelacur itu

Kamu katakan pada mereka

“Siapa yang tidak punya dosa.

Hendaklah ia yang pertama

Melemparkan batu-batu ini pada perempuan itu”.

Aih, sungguh!

Aku terangsang dan rindu

Kamu pemuda istimewa

Tak seperti pemuda-pemuda lain

Yang tunduk-taat pada adat dan faham kaum tua

***

Kamu tahu

Pelacur itu kawanku

Sungguh malang dia

Tertangkap dan diarak massa

Ketika kau membelanya

Aku yang senasib berdiri di kejauhan

Takut

Mereka telah memusuhi kami lama

Mereka sebut kami sampah masyarakat

Aku cuma ngerti

“Sebuah istana toh butuh selokan yang kotor?”

mereka tidak peduli

cuma di saat gelisah

mereka datang padaku

menghiba-hiba

menyetubuhiku

memaksakan tangannya meremas dadaku

memaksakan mulutnya melumat mulutku

aku mengeluh sakit

mereka tak peduli

“sudah kubeli tubuhmu dengan uangku”

aku menangis mereka tertawa

dan teruslah mereka berpura-pura suci

di depan isterinya

di depan anak-anaknya

di depan mertuanya

di depan tuhannya

ya, ampun

semakin mereka berlagak suci tujuh turunan

hujatan kepadaku pun berlipat-lipat

mereka sebut aku

“perempuan dengan tujuh roh jahat”

tujuh roh jahat?

Apakah itu?

Memang:

ibuku seorang pelacur

aku dibesarkan di pelacuran

aku dilahirkan tanpa bapak. Mereka sebut aku anak haram

aku tidak sekolah dan tidak beragama

aku tidak menikah

aku berteman dengan pelacur dan kaum homoseksual

aku sendiri pelacur

***

adakah yang mirip di antara kita?

Aku dengar

Kamu tak berbapak

Ibumu mengandung kamu sebelum menikah

Kamu juga liar

Tidur di jalan dan di taman-taman

Belum menikah

Sungguh gila

Adat memaksa lelaki di atas 14 tahun harus menikah

perempuan setelah haid harus juga menikah

Kamu?

tiga puluhan

Apakah kamu gay?

***

Ku buang dulu pikiran itu jauh-jauh

Aku belum mengenalmu

Barangkali engkaulah juruslamatku

Yang akan mengangkatku dari lumpur zinah

Atau engkaulah kekasihku

pelabuhanku

sekarang

biarlah kusimpan

di hati

***

memandangmu seperti memandang kerajaan surga

yang selalu kamu katakan

kepadamu harapanku melambung

ingin kunyanyikan lagu untukmu

dan tak ingin ku kenal yang lain

sungguh aku ingin kamu jadi pahlawanku

aku ingin suatu saat

kamu berkata kepadaku:

“aku mencintaimu, Lena!”

bukan dengan kelembutan

tapi dengan teriakan

liar

hingga orang-orang mendengar

tak hanya di sini

tapi seluruh dunia

biarkan para perempuan mati cemburu karena kita

dan mereka yang masih bernafas mengakuinya

sebab apa katamu?

“siapa bertelinga hendaklah mendengar?”

***

aku suka kata-kata itu

akan kutunggu kata-katamu kepadaku

sebab tak mungkin aku yang pertama

walau aku bisa dan tidak menolak

aku ingin kamu jadi lelaki

dan aku perempuan

***

aku ingin bertemu denganmu

tapi gimana caranya

apa kamu tahu caranya?

***

Sekali-kali kamu datang minum anggur

di tempat kami mangkal

tapi aku tak berani ambil kesempatan

aku malu menemuimu

padahal mata kita sempat bertemu

Aku takut

anak-anak buahmu selalu menjagamu dengan angkuh

padahal aku tahu

mata mereka adalah mata anak-anak nelayan yang penakut

apakah kelak mereka aka seberani engkau?

Bangsat!

Siapa mereka?

Simon, andre, anak-anak zebedeus

Yohan, yakobus?

***

Aduh, tuhan

Gimana caranya!

Sekali lagi aku melihat kamu nongkrong minum anggur

Aku cuma bengong melihat surga di depanku

Sampai tersadar ketika kamu berteriak-teriak marah

Pada orang-orang munafik

“kaliyan bilang apa kepadaku?

Peminum dan pelahap? Puih!

Dulu datang seorang nabi

tidak makan dan minum anggur

Makanannya cuma belalang dan madu hutan

Kamu bilang: orang gila

Kini aku datang

Makan dan minum

Di tengah orang-orang berdosa, miskin dan papa

Kamu bilang: aku, pelahap dan peminum

KaliYan memang sampah!

Munafik!

Kami meniup seruling bagimu

Kamu tak menari

Kami nyanyikan lagu duka

Kamu tak menangis

Celakalah kamu

Kamu adalah kuburan yang di luar dicat putih

Tapi di dalamnya adalah tulang-belulang busuk!”

Aku tersentak

Benarkah yang kamu katakan itu?

Mengapa kamu maki orang-orang yang dikenal baik itu?

***

Uh, sungguh aku ingin menemuimu

Tak pernahkah kamu sendiri

Sehingga kita dapat bicara

“kenalkan, namaku Lena!

dan namamu?

Bisakah kita nanti malam bertemu di taman Zaitun?”

Aduh, aku bisa gila

Teman-temanku tertawa ngakak

Aku tak peduli

Karena kamu

Aku memang gila

***

Ku dengar memang

Pada malam

Kamu bersama anak buahmu

sering nongkrong di taman Zaitun

Aku takut menemuimu di sana

Karena malam

Malam di sini sangat jahat

Perempuan baik bisa dibikin jalang

Apalagi buat perempuan jalang

Bisa dibikin apa saja

Tiada yang membela

Masih untung ketemu kamu dan anak buahmu

Kalau tidak?

***

Busyet!

Aku tak bisa tidur

Darahku mengalir ke ubun-ubun

Keringat dingin

Aku bangun membuang kesal

Bulan dan bintang

Kupandang agar jiwaku tenang

kubentangkan perasaanku dalam doa

Satu-satunya yang pernah diajarkan ibuku

“berkatilah kami!”

***

demikianlah kamu kupinta dalam doaku

***

kesempatan itu datang

aku sedang nongkrong di pasar

aku lihat kamu memasuki rumah kawanmu

ia nampak gembira

kali ini takkan kulepaskan

ku beli minyak wangi termahal dan terbaik

aku nyelonong masuk

tak peduli mereka sedang apa

saat itu hanya kamu di otakku

aku hanya takut

kamu akan menganggapku tukang bikin sensasi

dan sensasi adalah bagian dari hidupku yang terbesar

aku tidak peduli

kutuangkan minyak wangi di kakimu

kuusap dengan tanganku

kubersihkan dengan rambut hitam panjangku

kuciumi kakimu yang putih

aku menangis

kamu dengan tenang

dalam jiwa yang membela

memandangi orang-orang yang keheranan

“Semahal itu cuma dihabiskan begitu saja?”

dengan cara itulah kamu mengenalku

dan aku mulai dapat mengenalmu

lebih dekat

***

aku tahu kamu tidak bekerja

tapi aku tahu apa yang kamu kerjakan

kamu tidak pernah khawatir

dengan keuangan

selalu kamu bilang kepadaku

dan tak hanya kepadaku

“Carpe diem, petiklah hari ini,

sebab esok punya persoalan sendiri-sendiri!”

bagaimana kamu bisa makan dan berganti baju

kamu berkata

“burung-burung di udara tidak menanam, tapi makan

dan aku bersumpah kepadamu pakaian terbaik Salomo

masih kalah baik dengan bunga bakung”

***

Akupun mulai sering berjalan denganmu

dan kawan-kawanmu

seperti yang kamu bilang kepadaku

bukan anak buah seperti yang sering aku katakan

dan kamu mengajariku doa bila aku gelisah:

“Bapak kami yang ada di surga

dikuduskanlah namamu

datanglah kerajaanmu

jadilah kehendakmu

di atas bumi seperti di surga

berilah kami pada hari ini makanan kami secukupnya

dan ampunilah kami akan kesalahan kami

seperti kami juga mengampuni

orang-orang yang bersalah kepada kami…”

***

“Mengapa kita harus menyebut Bapak?”

aku protes

kamu bilang: bapak kita ini sungguh baik

tidak membedakan yang baik dan jahat

seperti hujan dan matahari

diberikan semuanya, air dan panas teriknya

kepada manusia

kepada anak manusia

“Bohong!”

“O ya?”

kamu hampir tak percaya aku bisa berkata seperti itu

“kupikir karena kamu tidak punya bapak.

Lalu kamu dambakan bapak yang sungguh baik”

Kamu cuma tertawa, memandang jauh

“mengapa tidak kamu sebut ibu?”

kamu terdiam

hanya berbisik

“Ibuku juga sungguh baik”.

***

Kamu gelisah menatap bintang-bintang malam

Angin malam membuat malam tambah dingin

Tapi itu tak membuatmu dingin

Kamu dekatkan wajahmu kepadaku dan berkata lembut

“ibuku sungguh baik. Ia, seorang ibu yang menerima

di saat-saat kegentingan menimpa dirinya

karena tanpa menikah ia mengandungku

ia berseru: ‘jadilah kehendakmu!’

karena penerimaannya, ia menjadi berani.

Tiada pernah takut!

Sekalipun ditinggalkan lelaki tunangannya

Sekalipun kutukan dan kecaman

akan datang dari keluarga, teman dan tetangga

Ia tidak takut ditinggalkan sendirian

Justru karena itu

lelaki tunangannya tak pernah meninggalkannya.

Ia telah melewati malam dingin dan menakutkan

saat mau melahirkan aku

Ia melewati jalan panas dan berdebu ke Mesir

melewati malam dingin mencekam pada jalan ke Mesir

Ketika raja bengis mengamuk membunuh bayi-bayi

Saat mengandung aku ia menyanyikan lagu terindah

Yang tak ada bandingannya sampai kini

Ketajaman puisinya menembus hatiku

yang aman dalam rahimnya

Sehingga aku bergerak

Jiwaku memuliakan Tuhan

hatiku bergembira

Karena Allah juruslamatku

ia telah memperhatikan kerendahan hambanya

Sesungguhnya mulai dari sekarang

segala keturunan akan menyebut aku berbahagia

yang mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar

Kepadaku

namanya adalah kudus

rakhmatnya turun-temurun atas orang yang takut akan dia

Ia memperlihatkan kuasanya dengan perbuatan tangannya

mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya

menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya

meninggikan orang-orang yang rendah

melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar

menyuruh orang kaya pergi dengan tangan hampa…”

***

Dalam terang bulan

kupandangi wajahmu yang gelisah

Ingin aku membelai rambutmu yang ikal sebahu

Aku takut

Sampai sejauh ini

Kamu memanggilku kawan

Seperti pada yang lain

Bahkan kamu bilang:

“Berbahagialah

orang-orang yang mati untuk kawan-kawannya”

Tak inginkah kamu mencintai?

Tak inginkah kamu dicintai?

Tak inginkah kamu disentuh?

Tak inginkah kamu?

***

Oh, syet!

Apa yang kamu pikirkan

Aku ada di depanmu

Tapi matamu memandang ke tempat-tempat yang jauh

Ke tempat-tempat yang tidak mengenal musim

Ke tempat-tempat yang mati

Haruskah aku yang memulai?

Aku bergerak mendekat

Begitu dekat kita

Lena”,

aku was-was

tubuhku bergetar

“bolehkah aku menambahkan nama Maria pada namamu?”

aku terdiam, hanya itu?

Tapi aku mengangguk

Kamu terlalu mencintai ibumu yang bernama Maria itu.

***

Baiklah

Barangkali memang belum saatnya

Tapi aku mengenalmu

Kegelisahanmu

Kita pernah bicara berdua

Di taman

Di malam

begitu dekat

Aku percaya kepadamu

Kamu begitu baik

Bagiku kamu adalah seorang guru

aku berharap ini akan berubah

Aku mencintaimu

kini aku punya kawan

Dari golongan terpelajar

***

Semakin sering aku mengikutimu

Kehidupan pelacuran dan rumah-rumah bordil

mulai tertinggalkan

Sering pula uangku kuberikan kepadamu

Karena aku percaya kepada hidupmu

Orang-orang mulai mengenal

Aku adalah kawan perempuan terdekatmu

Di samping Maria dan Martha?

Sebagian lagi ada yang menganggap kita pacaran

Bila itu ditujukan kepadamu

Kamu berkata:

“tak ada kata yang lebih indah selain kawan”.

Yakinkah kamu?

Bila itu ditujukan kepadaku

Aku menjadi gelisah

Aku tak yakin

Aku ingin kawin

Kawan ya kawin

Begitulah manusia hidup

Tak inginkah kamu kawin?

Menikah, Sayang?

***

Kamu ceritakan padaku tentang perceraian:

orang tidak boleh bercerai

Sebab ada orang yang tidak bisa kawin

karena kelahirannya

Karena sakit

karena hendak memperluas kerajaan surga

Kalau ketidakinginan kawin memang begitu

Kamu sendiri berada dalam golongan yang mana?

***

Apakah benar kamu gay?

Jika benar mengapa kamu kutuki Sodom dan Gomora

dengan seluruh kebencianmu?

Tak ada ampun bahkan harus disiksa, dibakar?

Tentang sikap terhadap kaum homoseksual dan transeksual

kita berbeda

membuat kita sering bertengkar hebat

Aku tak pernah sepakat!

Mereka adalah kawan-kawanku di masa kecil

Di masa kanak-kanak

Di masa remaja

Di masa dewasaku yang mendamba cinta yang tulus

Di tengah-tengah dunia pelacuran

Di tengah-tengah maksiat

Di tengah-tengah malam sampai matahari pecah

Di dalam duka, jeritan, tangis, bahagia, bersemangat, lesu

dan keinginan mati

Di dalam kebencian atas nama masyarakat

Di antara nafsu mereka untuk membunuh, menyiksa, meneror, menculik, memperkosa dan membantai kami

Di antara masyarakat itu adalah kamu

Aku muak kepadamu, kawanku tercinta

Kamu benci mereka

Kamu benci pula aku

Kamu bunuh mereka kamu bunuh aku

Kamu hina mereka kamu menghinaku

Bukankah itu semua yang kamu katakan kepadaku tentang kawan?

Kamu dan Aku

Dukamu sertaku

Marahmu airmataku

Hinamu tangisku

Makimu caciku

Bahagiamu citaku

Datangmu bentengku

Rindumu apiku

Dalam gelap

Di sini

Kini

pun rinduku

kuakui di banyak hal kita bertemu

lebih dari bertemu

karena itu aku mencintaimu

karena itu kurelakan hartaku

karena itu kutinggalkan kerjaku

karena itu sekali lagi karena itu

kutinggalkan kawan-kawanku

mengikutimu kemana kamu pergi

tapi tak pernah kukhianati mereka

kami sehidup semati dalam keyakinan yang sama

aku tahu orang-orang seperti mereka

tidaklah sakit

aku tahu orang-orang seperti mereka

bukanlah orang-orang yang dikutuk dewa yang agung

mereka punya cinta, punya dendam, benci, ingin kawan dan sahabat

mereka bisa menangis, sakit, lapar, terhina dan mati

tak ada yang salah pada sodom dan gomora

kesalahan mereka adalah pesta pora di lautan kemiskinan

kamu salah

aku berharap

kamu akan mengaku dosa kepadaku karena ini

sehingga kita penuh sebagai kawan

maafkan aku, hei, anak tukang kayu

tak adakah nenek moyangmu yang seperti diriku

membeli orang-orang sepertiku?

memang aku, kami harus dibantai

tapi bagaimana kami akan dibantai?

Kami berasal dari ketidakadilan masyarakat

Dengan keadilan masyarakatlah kami akan terbantai

Bukan dengan tangan-tangan kekuasaan yang berlagak suci

Aku, Lena

berterimakasih atas pembelaanmu pada orang-orang seperti kami

Kalau kami mengalah

Memang, bukan karena takut

Orang-orang seperti kami jumlahnya sedikit.

Kamu tampar pipi kiriku kuberikan pula kepadamu pipi kananku

Dengan keyakinan suatu saat bila kuat kubalas tamparanmu

Hingga kamu mencium kakiku, memohon ampun

Aku menyesal dulu pernah mencium kakimu

Inilah pertama kali aku menyesal dalam hidupku

Sering pula kamu masih menghinaku

Karena aku perempuan: tak boleh tampil memimpin

Namun dari semua makianku kepadamu

Tetap lebih banyak pujian dan rasa menicintaimu

Aku benar-benar membenci bila aku sudah berkata: malas

Kalau pun menemuimu hanyalah kemunafikan

***

Di manakah kamu esok malam

Tidur di mana

Apakah kita bisa bertemu di tempat biasa?

***

Selalu tak pasti

Rumahmu saja tak pasti

aku tak boleh tahu?

Begitu rahasiakah hidupmu?

Tak bolehkah aku mampir?

Apa yang kamu takutkan?

Soal ini kamu selalu bilang

“serigala mempunyai liang, burung-burung mempunyai sarang

tapi anak manusia tidak punya tempat untuk meletakkan kepalanya”

begitukah?

***

Katamu:

kita harus selalu bikin komitmen

Jujur dan terbuka

Supaya pasti ada kita di mana

Itulah yang penting

Siapa yang setia dalam perkara kecil

Akan setia dalam perkara besar

***

Aku ingat kepadamu

Seperti dahulu

Menyebut namamu

Bergetar jiwaku

Oh, kerinduanku, Mama!

Tak berbalas

Ke ujung-ujung kucari namamu

Di kota ini kucari sepi

Biar kutemukan wajahmu

Membayang

Dalam gelap

Ada tangis tak terhibur

O, Penyair

Tuliskan sajak rindu kepadanya

Biar kusebut namanya

Di saat ajalku

Kepadamu

Kuberikan

Lagu penuh kenangan

Nyanyikanlah di hatimu

Agar aku tak menjauh

Biarkan cinta berlabuh

Di hati yang rindu

Kita kan mendayung jauh

Ke pulau abadi

Aku ingat cerita-ceritamu

yang sering ku lupa atau tak tahu maknanya

Yang membuatmu marah

Tapi aku suka kalau kamu marah

Itu artinya…

Ya begitulah

Kamu tahu

Kamu pernah marah juga pada kawan-kawanmu

Betapa tololnya mereka

tak mampu mengartikan cerita yang sederhana

Lalu bagaimana dengan cerita-cerita yang lebih sulit?

Aku tertawa saat kamu mengatakan: mereka tolol

kamu menatapku dengan senyumanmu yang khas

Dan kata-katamu yang khas

“dasar kamu juga goblok! Kamu tahu artinya?”

“enggak!”

***

aduh kawanku,

datanglah kamu malam ini

aku ingat ini malam yang baik buat kaum muda

rasanya sepi

aku ingin kamu menghiburku

apakah jadi malam ini hanya mengingat cerita-ceritamu

tentang petani, aku tahu

tentang garam dunia, juga tahu

tentang seorang yang tamak

yang tidak tahu kapan akan mati?

tentang kerajaan surga, aku ikut saja

tentang seorang anak yang hilang

aku agak tidak senang

tentang anak domba yang tersesat, uh betapa baiknya

tentang orang-orang dengan bakat-bakatnya

tentang betapa susahnya mengikuti kamu

bahkan yang pertama bisa menjadi yang terakhir

aku tak begitu paham

bahkan di sini kamu begitu keras

aku sering merinding

tak percaya

kalau itu benar-benar keluar dari mulutmu

sungguh gila

“biarkan orang mati menguburkan orang mati?”

tak kau ijinkan sama sekali

pemuda itu mengubur mayat bapaknya?

“Tinggalkanlah keluargamu, ayah, ibu,

suami atau isterimu dan anak-anakmu?”

Begitu beratkah mengikutimu?

Lalu apa yang kamu berikan

kepada orang-orang yang mengikutimu?

Kamu terdiam sejenak ketika ku tanya

Jawabmu seperti dulu

ketika kamu dicari ibu dan saudara-saudaramu

“yang mengikuti aku

akan memperoleh lebih banyak saudara, tanah dan anak-anak”

karena itu juga kamu sering mengeluh

ternyata begitu sedikit yang mengikuti kamu

“panenan memang banyak tapi pekerja sedikit”

hanya sebentar saja kamu sedih

merasa tidak terjadi apa-apa

lalu kamu bilang

“siapa yang mengetuk pintu, pintu akan dibukakan

siapa mencari, akan menemukan”

di antara semua itu yang paling aku suka adalah puisimu

yang kamu bacakan di atas bukit

semangatnya adalah nyanyian ibumu

ketika kamu dalam kandungan

kata-kata yang menggerakkan

ketika kamu dalam rahim ibumu yang aman

aku sendiri sering bahagia mendengarnya

berbahagialah kamu orang-orang miskin

berbahagialah kamu yang oleh karena aku kamu dianiaya

berbahagialah kamu yang direndahkan sebab kamu akan ditinggikan

berbahagialah kamu yang lapar karena kamu akan dikenyangkan

tentang kawan-kawanmu

kamu tak banyak cerita

hanya simonlah yang sering kamu sebut

orang yang keras, kokoh bak karang di lautan

kamu sebut dia Petrus

katamu: dialah yang akan menggantikanmu

bila kamu pergi atau mati?

Yohanes kudengar murid yang paling kamu sayangi

Ketika mereka bertengkar siapa yang paling berhak dicintai

Kamu marah dan menunjuk anak kecillah yang paling berhak

Kamu juga marah pada mereka yang menentang ajaranmu

Bahkan kamu tak bisa mengampuninya

itulah dosa yang tak terampuni?

pada mereka yang menyesatkan anak-anak kecil

kamu lebih tegas

orang seperti itu hanya layak dilemparkan ke laut

dengan batu kilangan di lehernya?

***

sudah berapa lama aku bersamamu?

Sampai aku sudah lupa pada masa laluku

Tapi belum juga keluar dari mulutmu

Lena, aku mencintaimu!”

masihkah kamu menganggapku kawan

seperti kawan-kawanmu yang lain

tak adakah kepedulianmu dalam soal ini kepadaku

kamu tak mengerti atau pura-pura

apakah memang begitu terus jalan hidupmu

apa katamu?

kamu datang ke dunia

untuk membawa kabar baik bagi orang-orang miskin

penglihatan bagi orang-orang buta

untuk membebaskan orang-orang yang tertindas

memberitakan pembebasan bagi para tawanan?

***

Tak mengapa

Kamu adalah bagian dari hidupku

***

Pintaku

Jangan ada di otakmu

Aku tidak serius

Aku sudah sangat-sangat serius

berusaha ngerti dan memahami cara berfikir dan hidupmu

tapi tak sanggup aku menjalaninya?

Atau

lupakan semua

Terimakasih atas pertemuan–pertemuan kita

Mungkin kita berbeda

Walau aku tahu banyak kesamaannya

Akan kutunggu

Berapa lama cintaku kepadamu bertahan

Dan berapa lama kamu menjadi malaikat

Ya! kutunggu kejatuhanmu

***

Lama kita tak bertemu

Atau terasa lama?

***

Sampai suatu saat ku dengar kamu ditangkap

Seorang kawanmu mengkhianatimu

kawan-kawanmu yang lain yang kamu banggakan itu

lari pontang-panting

meninggalkanmu

seperti yang dulu pernah kukira

mereka adalah anak-anak nelayan sederhana

dalam arti lain juga penakut

entah bagaimana caranya

mereka akan menjadi berani aku tidak tahu

dan itu suatu kegilaan pasti

***

setelah penangkapanmu

aku semakin tidak tahu

kabar kawan-kawanmu

mereka tak lagi berkumpul

berpencar-pencar dalam persembunyian

menyamar dan pura-pura tidak mengenalmu

aku menangis

takkan kutinggalkan kamu sendiri

kamulah kawanku yang sesungguhnya

lepas dari kelemahan-kelemahanmu

di saat-saat pengejaran seperti ini aku jadi ingat

kata-katamu

“kamu bekerja di tengah-tengah serigala

kamu harus licik seperti ular dan jinak seperti merpati”

***

aku datang ke ibumu

menanyakan kabar semuanya

adakah kawan-kawan masih ngumpul

***

pengadilan kepadamu mulai berjalan

pengadilan agama tidak bisa memutuskan

Herodes tidak mau mengadilimu karena bukan kuasanya

Dilemparkannya kamu kepada Pilatus

Ia juga enggan

memilih cuci tangan

ia terus didesak

akhirnya kalah

Karena diancam akan diadukan ke Kaisar Roma

Oh betapa heran: aku jadi tahu jalur-jalur kekuasaan?!

***

Orang-orang ramai menonton pengadilanmu

Bagaimana kamu menjawab kesalahan-kesalahan

yang ditimpakan kepadamu

Kamu begitu tenang

Seperti tidak ada apa-apa

Padahal kematian siap digantungkan ke lehermu

Kawan-kawanmu tiada yang datang membela

Dimanakah sebelas orang kawan terbaikmu

Simon, Andre, Yohan, Yakob…

Dimanakah lima ribu orang laki-laki yang kamu kasih makan gratis

Dimanakah empat ribu orang laki-laki yang lagi-lagi kamu kasih makan gratis

Dimanakah orang-orang yang mengelu-elukan kamu sebagai raja menuju kota perdamaian

***

Yudas!

Ku dengar setelah tahu

betapa salah perbuatannya

gantung diri

Menyesal

Begitukah caranya

ia harus menebus kesalahannya

Ku pikir kamu sendiri tidak setuju

Tapi pasti betapa benci kawan-kawanmu

Simon: pasti akan memaki-maki tanpa ampun

Tapi kamu tak pernah berkomentar apapun

Kamu menganggap tidak ada

Dan memang

tidak ada itulah hukuman bagi pengkhianat?

Ketiadaan itukah hukumannya?

Yudas Iskariot adalah bagian dari hidupmu yang singkat

Yang pernah kamu anggap kawan?

Sehingga dibenci dan dimakipun tak layak?

***

Akhirnya ini betul-betul menimpamu

Aku tak percaya Pilatus mengijinkanmu dihukum salib

diarak keliling kota menuju bukit tengkorak

Aku berdiri di pinggir

Di antara orang-orang yang ingin melihatmu dihina

Aku ingin menangis

Tapi aku telah berjanji kepadamu

Bahwa aku tak akan menangis di depan orang lain

Kecuali di depanmu

***

Begitulah juga kamu berkata

kepada perempuan-perempuan yang menangis itu

***

Vero sungguh berani

Ia maju mengusap lukamu

Mengapa bukan aku?

Aku cemburu

Betapa kecil nyaliku

***

Sampai di Bukit Tengkorak

aku tetap berdiri di kejauhan

Memandang luka-lukamu

mendengar luh penderitaanmu

Sampai menjelang ajal

Kamu masih meminta

Agar orang-orang yang menghinamu

menyalibkanmu jangan dijadikan dendam

mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat

***

Siapakah lalu musuh-musuhmu

kamu juga berkata

Kasihilah musuh-musuhmu

***

Dari ketinggianmu masih keluar dari mulutmu yang bersih

Ibu inilah anakmu dan inilah ibumu

Kamu tidak menyebut namaku

Aku kecewa

Aku sadar

Aku bukanlah kawan istimewamu

Yohaneslah yang istimewa

***

Jam tiga sore

kamu pergi selama-lamanya

Langit mendung, gelap, hujan dan kilat menyambar-nyambar

Seakan marah pada ketidakadilan yang ditimpakan kepadamu

***

Selesai sudah

kamu ditinggikan dengan hina

Kamu orang yang telah menghinakan dirimu

Anak manusia yang telah meludahi masa depan

Demi cita-citamu yang berbahaya

***

Sungguh orang kaya yang baik dan berani

Yusuf Arimatea datang kepadamu

Membelikanmu kain kafan

mengantarmu ke tempat tidur panjangmu

***

Aku pulang

Merasa bersalah

Mengapa aku tak datang

ketika kamu berbeban berat

Terkutuklah hidup dan kelahiranku

Aku menangis sendirian

Tak ada kawan

***

Pagi pagi benar

aku datang kepadamu

Aku menangis

mengapa aku berani datang kepadamu

Ketika tak ada gerakan dalam tubuhmu

Maria ibumu bersamaku

Aku tak tahu

siapa yang akan menolong

menggulingkan batu

Betapa terkejut kami

Pintu sudah dibuka

makam telah kosong

Tak ada tubuhmu yang terluka

Aku takut

Kamu hilang

Orang yang tak kukenal berkata kepadaku

“beritahukanlah kepada kawan-kawan yang setia

ditunggu di tempat yang sudah mereka tahu”

aku pun cepat-cepat datang menemui Simon dan kawan-kawan

yang berkumpul di rumah Bunda

mulailah kini beredar cerita tentang kehilanganmu

ada orang yang bercerita pernah bertemu denganmu

sampai tentara yang mengatakan bahwa mayatmu telah dicuri

***

Pada malam itu

Kami berkumpul

diberitahukanlah kepada kami

Soal penggantian Yudas

Matias yang menggantikannya

dikabarkan juga kepada kami

kamu akan selalu menemani kami

Sepanjang segala abad

Bahkan bila dua orang berkumpul atas namamu

***

Semenjak kamu tiada

Kami sering berkumpul bersama

sehidup semati

Sejiwa

dibuatlah Credo

Yang menandakan

kami sekawan dan sejiwa dalam namamu

Setiap waktu kami harus mengatakan

Entah sembunyi atau terbuka

Di antaranya kami mengakui bahwa kematianmu

Karena kekuasaan yang menindas

pemerintahan Pilatuslah yang bertanggung jawab

Kami tidak menuduh pemuka-pemuka agama dan rakyat

Sebab mereka tidak tahu

Apa yang mereka perbuat

Jadi demikianlah kepercayaan kami

Kepadamu

Aku percaya akan Allah

Bapa yang maha kuasa

Pencipta langit dan bumi

Akan Yesus Kristus

Putranya yang tunggal

Yang hidup sengsara dan wafat

Di bawah pemerintahan Pontius Pilatus…

Apakah kamu sepakat dengan Credo ini?

***

Kawan-kawan mulai menjual harta milik

Mengelolanya bersama-sama

Mulailah kini

Kawan-kawan hidup sesuai dengan kebutuhan

***

Petrus begitu marah ketika tahu

Ananias dan isterinya Safira berbohong

Mereka menjual tanah

cuma sebagian yang dilaporkan kepada kawan-kawan

Hal yang tak kuduga

Petrus menjatuhkan hukuman mati

Pada sepasang suami-isteri yang berbohong itu

Inilah hukuman mati yang pertama kali dijatuhkan

Semenjak kami berkumpul sebagai kawan sehidup semati

Kalau kamu masih hidup

Apakah kamu sepakat?

Kupikir tidak.

Petrus dan kawan-kawan terlalu emosional

Atau kami takut terhadap segala bentuk pengkhianatan?

Terhadap segala bentuk ketidakjujuran?

Karena pelajaran dari Yudas Iskariot?

***

Ketika hukuman mati dijalankan

Aku pergi meninggalkannya

Tak tahan

Melihat darah mengalir begitu dekat

Dengan hidupku

Aku sembunyi

Menangis

Tapi

Takkan pernah kutinggalkan mereka

Bagaimanapun merekalah yang terbaik:

belajar cinta

kasih

cita-cita

bagaimana seharusnya anak-anak manusia ini hidup

makna kekuasaan

hidupku

darimana asalku

penjaraku

pembebasanku

bersama-sama

pemuda-pemuda nelayan

pemuda-pemuda miskin

petani-petani dan para pekerja kebun anggur

orang-orang yang jujur

***

aku takkan lagi menangis

di mana kamu malam ini

tidur di mana

Bisa kita bertemu di tempat biasa?

*****

Ditulis pertama kali di Jakarta 4 September 1999

Ditulis lagi dengan perubahan dan dianggap selesai juga di Jakarta, Minggu, jam 17.29 wib 11 Mei 2003

Kamis, 21 Agustus 2008

tentang perubahan dan sebuah gerakan

untuk dis

seandainya
aku punya mimpi
aku ingin bermimpi
tentang perubahan dan sebuah gerakan

seandainya
aku punya gagasan
aku ingin menggagas
perubahan dan sebuah gerakan

seandainya
aku punya cerita
aku ingin cerita
tentang perubahan dan sebuah gerakan

seandainya
aku berpikir
aku ingin memikirkan
perubahan dan sebuah gerakan

seandainya
aku bekerja
aku ingin bekerja
hanya untuk perubahan dan sebuah gerakan

setidak-tidaknya
untuk diriku sendiri

Jakarta, 18 Agustus 2008

Senin, 11 Agustus 2008

H.M. Misbach, 1879-1926

untuk n


Kapitalisme?

Setan!


Jakarta, 8 Agustus 2008

Jumat, 08 Agustus 2008

P E R G I

Begitu cepat waktu berlalu.

"Hai, Jangan pergi..."



Tebet Dalam, 9 Agustus 2008

Kamis, 07 Agustus 2008

Sekali Petik Selesai Sudah

di langit kita menggantungkan harapan

pada puncak-puncak gunung kita berharap

sekali petik selesai sudah

lalu tertawa menyusuri sungai berbatu-batu

di lembah kita menggantungkan harapan

pada gubuk tua dan rahasia daun-daun nenek moyang kita berharap

sekali petik selesai sudah

lalu tertawa menari pada pesta panen

di malam kita menggantungkan harapan

pada laju kembara angin segala penjuru kita berharap

sekali petik selesai sudah

lalu kita tertawa sepanjang hidup diselingi tawa anak-anak riang

di pagi buta kita menggantungkan harapan

pada kabut dan harum bunga-bunga kita berharap

sekali petik selesai sudah

lalu kita tersenyum menyaksikan segala tumbuh dan berkembang

di tangan-tangan yang baru kita menggantungkan harapan

pada masa yang terus melaju kita berharap

sekali petik selesai sudah

lalu kita terbang di awan melintasi ruang dan waktu tanpa batas.


Jakarta, 10 Februari 2006

Tarian Arak



Di sini laut mati tak berombak

Beri aku arak, sayang

Biar kulihat awan merah berarak-arak

Seperti barisan para pemberontak

Holobis kuntul baris

Rawe-rawe rantas malang-malang putung

Ho..e di sini laut mati tak berombak

Di manakah jejak Musa membelah ombak?

Meluluhlantakkan bala tentara Fir’aun?

Holobis kuntul baris

Rawe-rawe rantas malang-malang putung

Di sini laut mati tak berombak

Sekali lagi beri aku arak, sayang

Biar kuterbang sejenak di awan merah berarak-arak

Di atas laut berombak-ombak

Di antara jejak pemberontak menghentak-hentak

Holobis kuntul baris

Rawe-rawe rantas malang-malang putung


Jakarta, 14 Juli 2005

B i l a

Bila ini yang dinamakan cinta

Tentunya tak akan seperti daun-daun yang berguguran

Pada sebuah musim

Pun pohon-pohon Jati yang meranggas ketika kemarau tiba

Bila ini: cinta

Tentunya tak akan seperti hari-hari yang berlalu tanpa arti

Pada musim yang silih berganti

Pun detak-detak jantung yang sering lewat begitu saja

Aku ingin seperti bunga-bunga bermekaran tak mengenal musim

Pun cerita, cerita yang tak pernah berakhir

Harum-wanginya membangkitkan orang-orang mati

Menggerakkan orang-orang lapar

Bila ini memang cinta


Tebet, 16 Oktober 2006

Loading...

Apakah puisi berguna untuk Anda?

Mengenai Saya

Foto Saya
ajsusmana
dilahirkan di klaten, 20 November 1971.anggota divisi sastra sanggar satu bumi
Lihat profil lengkapku