Luka yang mana yang kamu cari?
Ini?
Yang ini?
Di sini?
Di sini?
Di sini?
Yang baru, Tuhanku.
Ini.
Sanghyang, AJ Susmana, 19 Mei 2026
selamat datang di dunia kata aj susmana
Luka yang mana yang kamu cari?
Ini?
Yang ini?
Di sini?
Di sini?
Di sini?
Yang baru, Tuhanku.
Ini.
Sanghyang, AJ Susmana, 19 Mei 2026
Setiap mata bertemu mata
hanya harapan
diairi mata air
tak mengenal musim
Engkau bilang
hanya dari kesedihan
ke kesedihan
Lagunya lagu bimbang
musiknya tak ada perkusi
hanya gesek yang menyayat sunyi
Bagaimanapun
gendang ditabuh
Tarian kesedihan adalah juga perlawanan
Kalau saja via dolorosa ini satu-satunya
Aku pun tidak akan berpaling
Begitu katamu
AJ Susmana, Sanghyang, 15 Mei 2026.
Buruh
Yang kau tau
tak bisa berserikat
Kini berikat-ikat bergelombang berserikat menuju
Tugu Kemenangan
Mereka satu barisan
tak lagi dapat dipecah-pecah oleh pemburu kuasa,
rente, dan para penjilat
Buruh sudah tahu siapa lawan dan siapa kawan
Di Tugu Kemenangan tahun lalu
Buruh yang tak lupa
Menyerukan
agar seorang buruh wanita yang dibunuh keserakahan
dijadikan Pahlawan Negeri
Pada tahun ini, buruh wanita yang dibunuh keserakahan itu:
Pahlawan Negeri
Roh kemarahan pada kaum serakahnomics pun membuncah
pada hari ini di Tugu Kemenangan:
“Singkirkan mereka, enyahkan mereka: Imperialisme,
Oligarki, para birokrat korup!”
Buruh yang kau tau
Hanya pasrah pada
nasib dan keadaan
Kini mereka membaca keadaan
Membuka kitab-kitab perubahan dan filsafat perubahan
yang mungkin luput kau baca
Di Tugu Kemenangan, mereka membikin perhitungan
Agar tak salah langkah menuju Keadilan dan Kemakmuran
Demi mengubah nasib diri dan negeri di tengah gelombang perubahan dunia
“Buruh soko guru revolusi. Buruh soko guru perubahan”
pun sampai di telinga.
Mereka yakin menjadi garda depan perubahan negeri:
Tak seharusnya terombang-ambing di arus kebingungan
Bersatu, Berdaulat, Adil dan Makmur
Negeri yang kuat tak melupakan buruh
Sebab, buruh
yang kuat dan sejahtera adalah wajah negeri sesungguhnya
Selamat Hari Buruh Internasional, 1 Mei 2026.
AJ Susmana, Kota Seribu Industri: Tangerang
Seribu tahun hilang
Hanya yang beriman
menemukan
Revolusi
Revolusi
Sampai mati
Di jalan aku ingin hidup seribu tahun lagi
Dalam nyenyak tanpa mimpi pun
Seribu tahun tidak berarti
Kembalikan negeri
Harga diri masih punya arti
Merdeka atau
Mati
Seribu janji-janji
Di kelak-kelak
kemudian hari
yang masih mungkin kau ingkari
bagaikan seribu kunang-kunang di gelap malam
kita pun percaya
Selama perjalanan ini
yang membawa
terang
Selalu ada
Obor dinyalakan
Kita pun tahu ke mana arah angin
Dengan seribu kata
hendak kau wujudkan revolusi?
Hanya puisi.
Puisi yang juga semua orang tahu:
Iqra!
Dunia bergerak
Kabar rakyat dari kesedihan ke kesedihan
Menjadi kabar suka-cita:
Revolusi
Selalu ada
Sanghyang, 23 April 2025