Minggu, 08 Maret 2026

Revolusi

Seribu tahun hilang

Hanya yang  beriman menemukan

 

Revolusi

Revolusi

Sampai mati

Di jalan aku ingin hidup seribu tahun lagi

 

Dalam nyenyak tanpa mimpi pun

Seribu tahun tidak berarti

Kembalikan negeri

Harga diri masih punya arti

Merdeka  atau Mati

 

Seribu janji-janji

Di kelak-kelak  kemudian hari 

yang masih mungkin kau ingkari

bagaikan seribu kunang-kunang di gelap malam

 

 

 

 

 

kita pun percaya

Selama perjalanan ini

yang membawa  terang

Selalu ada  

Obor dinyalakan

Kita pun tahu ke mana arah angin

 

 

Dengan seribu kata

 hendak  kau wujudkan revolusi?

Hanya puisi.  Puisi yang juga  semua orang tahu:

Iqra!

 

Dunia bergerak

Kabar rakyat dari kesedihan ke kesedihan

Menjadi kabar suka-cita:

Revolusi

Selalu ada

 

Sanghyang, 23 April 2025

Jumat, 27 Februari 2026

Menghadang Kubilai Khan


 
300  K termasuk ongkir ke seluruh Indonesia
                     Hp/WA:  083877338345

Meteor Jatuh

Ketika itu petir menyambar

di perbatasan kota kaum pelajar

 

Langit terbelah

Kita pun berpisah

Setelah diskusi panjang tentang falsafah

 

Kamu kembali ke kotamu

yang berabad-abad lalu dihujani Meteor

 

Ketika melihat meteor jatuh

Aku berdoa suatu waktu

Tiba di kotamu

 

Aku pun sampai di kotamu

Aku temukan meteor yang jatuh itu

Tapi tidak dirimu

 

Wunut, Temanggung, 3 Mei 2025

Kamis, 19 Februari 2026

Doa Penyembah Batu

 

Batu gunung

Gunung batu

Jangan biarkan kami membatu

Malin Kundang pun tak ingin membatu

 

 

Monumen-monumen batu

Candi-candi

Batu-batu Menhir.

Jangan biarkan otak batu meratui dunia yang tak ingin membatu

 

Kota Batu, 3 Mei 2025

Rabu, 28 Januari 2026

Gunung Kuda

Batu duka 

Batu Suka 

Hidup yang keras 

Tidaklah membuat kita seperti batu karang 

Ada air mata 
Ada mata air 
Yang membersihkan luka 

Pada jalan berbatu-batu 
Tapi itulah yang membuat kita kukuh 
Berlari bagai kuda 
Menempuh jalan ini 
Hingga usai

Cirebon, Juni 2025

Jumat, 02 Februari 2024

P E R I N G A T A N atas P E R I N G A T A N

 

Situasi Indonesia hari ini sudah jauh berbeda. Tidak seperti yang tergambarkan dalam puisi Peringatan yang  legendaris karya penyair Wiji Thukul, yang masih hilang hingga hari ini; 

yang syair penutupnya menjadi seruan perlawanan terhadap  Tirani Jenderal Soeharto: 

“Hanya ada satu kata: Lawan!”  

Saat ini setidaknya ada demokrasi. Partai-Partai bisa didirikan lebih bebas. Lembaga-lembaga penguat demokrasi dan hak-hak rakyat didirikan. Demontrasi bukan kriminal yang bisa dituduh subversib dan komunis tapi sudah menjadi hak dan cara demokratis rakyat dalam mengemukakan pendapat yang dilindungi Undang-Undang.

 Rakyat sudah  berani mengeluh.   

Bisa mengeluh di Komnas HAM, di Ombudsman, Komnas Perempuan, dan lain-lain bahkan di jalanan dan depan Istana Presiden.  

Itu artinya sudah tidak gawat situasi negara karena ada saluran untuk berbagai keluhan rakyat. 

Omongan penguasa pun sudah boleh dibantah bahkan sesuka hati atau sak udele dhewe kata  Orang Jawa juga boleh. Tidak perlu ilmiah dan harus memberikan solusi atau pun konstruktif. 

Kebenaran  tidak pasti terancam; selalu bisa didiskusikan dan diperdebatkan. 

Hampir tak ada  usul yang ditolak tanpa ditimbang hanya mungkin diabaikan karena berbagai alasan tapi usulan yang baik tentu juga diterima.  

Juga hampir tak ada suara dibungkam  dan kritik dilarang tanpa alasan  atau pun seseorang gampang dituduh subversif dan mengganggu keamanan sehingga bisa dilenyapkan begitu saja seperti jaman Orde Baru. 

Semua itu jelas sudah berubah apalagi bila kita ingat kata-kata bijak Herakleitos, filsuf Yunani abad ke-4 SM bahwa segala sesuatu mengalir dan berubah.