Senin, 16 Oktober 2006

B i l a

Bila ini yang dinamakan cinta
Tentunya tak akan seperti daun-daun yang berguguran
Pada sebuah musim
Pun pohon-pohon Jati yang meranggas ketika kemarau tiba
Bila ini: cinta
Tentunya tak akan seperti hari-hari yang berlalu tanpa arti
Pada musim yang silih berganti
Pun detak-detak jantung yang sering lewat begitu saja
Aku ingin seperti bunga-bunga bermekaran tak mengenal musim
Pun cerita, cerita yang tak pernah berakhir
Harum-wanginya membangkitkan orang-orang mati
Menggerakkan orang-orang lapar
Bila ini memang cinta

Tebet, 16 Oktober 2006

Minggu, 17 September 2006

Kupang



untuk Ale

Kami menari di antara batu-batu karang dan bunga-bunga bougenville. Kami lupa kesedihan. Malam begitu setia sampai pagi pun terlupakan bahkan kami lupa kalau kami tertidur nyenyak di atas batu-batu karang.

Tebet, 17 September 2006

Jumat, 10 Februari 2006

Sekali Petik Selesai Sudah



di langit kita menggantungkan harapan
pada puncak-puncak gunung kita berharap
sekali petik selesai sudah
lalu tertawa menyusuri sungai berbatu-batu

di lembah kita menggantungkan harapan
pada gubuk tua dan rahasia daun-daun nenek moyang kita berharap
sekali petik selesai sudah
lalu tertawa menari pada pesta panen

di malam kita menggantungkan harapan
pada laju kembara angin segala penjuru kita berharap
sekali petik selesai sudah
lalu kita tertawa sepanjang hidup diselingi tawa anak-anak riang

di pagi buta kita menggantungkan harapan
pada kabut dan harum bunga-bunga kita berharap
sekali petik selesai sudah
lalu kita tersenyum menyaksikan segala tumbuh dan berkembang

di tangan-tangan yang baru kita menggantungkan harapan
pada masa yang terus melaju kita berharap
sekali petik selesai sudah
lalu kita terbang di awan melintasi ruang dan waktu tanpa batas.


Jakarta, 10 Februari 2006

Rabu, 20 Juli 2005

Mereka Masih Mengenalmu?


Wajah yang lapar ini adalah kamu?
Yang berkata burung-burung di udara tak menanam
tapi makan?
Lihatlah, mereka membuka jas
Dan kamu masih telanjang di jalanan
menyanyikan lagu duka
Busung lapar, malaria, lumpuh layuh,
flu burung, muntaber…korupsi
Sepanjang jalan para pahlawan
Musik menderu sampai pagi
Lampu jalanan tak mati-mati
Mereka masih mengenalmu?

Tebet, 20 Juli 2005

Kamis, 14 Juli 2005

Tarian Arak





Di sini laut mati tak berombak

Beri aku arak, sayang
Biar kulihat awan merah berarak-arak
Seperti barisan para pemberontak

Holobis kuntul baris
Rawe-rawe rantas malang-malang putung


Ho..e di sini laut mati tak berombak
Di manakah jejak Musa membelah ombak?
Meluluhlantakkan bala tentara Fir’aun?

Holobis kuntul baris
Rawe-rawe rantas malang-malang putung


Di sini laut mati tak berombak
Sekali lagi beri aku arak, sayang
Biar kuterbang sejenak di awan merah berarak-arak
Di atas laut berombak-ombak
Di antara jejak pemberontak menghentak-hentak

Holobis kuntul baris
Rawe-rawe rantas malang-malang putung

Jakarta, 14 Juli 2005

Rabu, 25 Mei 2005

Di Jalan Bersimpang




Di jalan bersimpang

Kabut menggantikan duka

Burung burung men-ciap enggan terbang

Bersamaan lampu-lampu jalan yang mati

Seorang ibu tua memanggul hidupnya

Kamu belum datang juga



Yeah! Kupukul kau besi tua

Hilangkan sunyi mencekam: menanti

Bangunkan aku dari duka

Di jalan bersimpang

Kamu masih tanya: Ada?



Ketika kamu tiba

Tak ada cakap

Pun bila kita ke kiri atau ke kanan

Di jalan bersimpang

Sepertinya kita berjalan lurus?



Di jalan bersimpang

Kabut menggantikan duka

Bening empun pagi: air mata kita

Tak lagi ada tanya, duka dan cakap

Seperti permadani parsi jalan membentang

Pada kamu.Pada aku

Hari ini





Tebet, 25 Mei 2005

Kamis, 01 Januari 2004

Waktu yang membuat beda


Di saat susah di saat senang:
Tak ada beda
Waktu yang membuat beda
Dulu: ada cita maupun tak
Tak ada beda. Waktu yang membuat beda
Kematian datang sejak dalam kandungan
Hanya ada jalan membentang
Berhenti boleh. Berlalu apalagi
Kamu pun demikian:
Tak ada beda
Waktu yang membuat beda



Tebet, 2004