Minggu, 10 Februari 2008

Drupadi


Jika aku ingin menangis
Aku tak ingin menangis di depanmu
Apakah aku tampak seperti perempuan murahan?
Yang menjajakan diri di jalanan, taman-taman dan alun-alun kota?
Setan apa yang ada di otakmu
Hingga kau jadikan aku barang taruhan?
Jika aku ingin menangis
Aku tak ingin menangis di depanmu
Begitu dinginkah hatimu
Dan kering air matamu?
Melihat aku ditelanjangi di depan umum?
Orang-orang tertawa mesum dengan wajah-wajah birahi
Kamu, yang kupikir mencintaiku
Dan kurelakan tubuh telanjangku untuk malam-malammu
Hanya membisu
Membuang muka
Oh para dewa, mengapa kamu kirimkan lelaki
Yang membisu ketika perempuannya dipermalukan?
Dan aku melihat perempuan-perempuan menutup mata dan muka
Ketika melihatku ditelanjangi beramai-ramai di alun-alun kota
Mungkinkah mereka mengalami kehinaan seperti diriku?
Ditelanjangi tanpa kerelaan diri?
Kekasihku?
Apakah aku tampak seperti perempuan murahan?
Hingga ada lelaki yang tak ragu menyeret rambutku
Menjamah tubuhku?
Dan kamu?
Membisu?
Adakah yang salah dalam diriku?
Ada memang lelaki yang kutolak cintanya karena alasan orang tuaku
Dia bukan dari golongan bangsawan
tapi tak pernah ia kecewa dan dendam kepadaku
menerima nasib dan takdirnya: lahir bukan dari rahim bangsawan
Apakah karena penolakan itu...aku kini menerima balasan?
Ditelanjangi di depan mata para lelaki yang bernafsu
Dan suamiku membisu tak bergerak?
Jika aku ingin menangis
Aku tak ingin menangis di depanmu
Aku, Drupadi yang kehilangan cinta dan perlindungan
Kemana aku harus mencari?
Di jalanan kota lebih tak aman
Perempuan-perempuan miskin
Dipaksa menari telanjang tanpa upah layak
Cuma cukup untuk makan
agar esok malam cukup kuat menari telanjang lagi
dan lagi sepanjang hidup sampai pada kematian menjemput
Dan mereka yang terpaksa dan dipaksa menjual tubuhnya
Antri ditelanjangi lelaki-lelaki kawan berjudi lelakiku
Oh para dewa kemana aku harus pergi?
Seluruh mata di kota memalingkan muka kepadaku
Dan lelaki yang telah membikin aku murahan
Membisu tanpa daya dalam kekosongan
Jika aku ingin menangis
Aku tak ingin menangis di depanmu
Lelaki yang telah membikin aku murahan
Seperti mereka, para perempuan yang dihinakan di kotaku
aku membisu dalam dendam tak berkesudahan
dalam kamar-kamar kesendirian
sampai fajar menyingsing
Lelakiku! Lelakiku!
Air mata ini terlalu mahal untuk ditumpahkan di depanmu
Aku, Drupadi yang kehilangan cinta dan perlindungan
Kemana aku harus mencari?
Tentu tidak kepadamu

Jakarta, 10 Februari 2008










Sabtu, 12 Januari 2008

Bergegaslah



untuk petro

lampu-lampu kota mulai menyala
deras dan rintik hujan saling berbagi waktu
aku berdiri menanti di emperan toko
hembusan angin menerpa wajahku

seakan membawa pesan

:"jangan takut. tak ada badai. bergegaslah."

Jakarta , 12 Januari 2008

Rabu, 14 Maret 2007

Lari


Kami berlari
dari kejaran dan perburuan
Wajah-wajah seram seperti hadir
di kepala kami
“Hantu?”
“ Oh, bukan. Bukan. Itu hanyalah bayangan”
Daun-daun gemerisik membisikkan pesan para petani
Dongengan nenek moyang dan danyang-danyang desa
Bulan kusut masai di antara tarian awan-awan hitam
Perempuan dari Dusun Girah itupun membayang
Menari, mengaum seperti singa betina takut kehilangan anaknya
matanya memerah memanggil roh-roh jahat
Petaka rakyat
Rambut durga pun diterpa angin
Membadai tak terhalang berdiri di ketinggian
Menunjuk dan menertawakan dewa-dewa Airlangga
Guyang langsung menari
lengan terentang
sesekali bertepuk tangan tenang
duduk di atas tanah
berputar-putar
matanya melotot
memutar kepala kiri-kanan.
Larung pun menari
seperti harimau yang akan meloncat
matanya merah
telanjang
rambutnya terjurai lepas di depan wajahnya.
Gandi menari meloncat-loncat;
rambutnya tergantung lepas ke samping.
Matanya pun merah-bundar seperti sebuah ganitri.
Lende menari di atas ujung-ujung jarinya
membuat loncatan-loncatan pendek,
Matanya membara seperti api yang akan menyala.
Rambutnya tergantung lepas.
Wokcirsa menari
membongkok ke depan,
memandang ke belakang,
matanya terbuka lebar
memandang dengan tajam.
Rambutnya tergantung lepas ke samping
ia pun telanjang.
Mahisawadana menari
kedua tungkainya menutup bersama;
ia berlari di atas tangannya
menjulurkan lidahnya yang bergetar
kedua tangannya bergerak
mencoba untuk meraih sesuatu.
Ketika semua telah menari,
Calon Arang, perempuan Girah itu pun tertawa riang*
Hantu? Bukan
Dia hanyalah bayangan seperti permainan anak-anak
Menari menggoda pada terang bulan
Tapi bukankah Mpu Baradah telah membunuhnya?
Kami berlari
dari kejaran dan perburuan
Wajah-wajah seram seperti hadir
di kepala kami
sungai membentang di depan kami
dan nafas kami tak beraturan
kugandeng tangannya
berjalan perlahan ketepian
hanya kaki-kaki kami yang menjadi mata kami
“Lewat sini!”
Kami melihat gadis desa yang manis memanggil tak ragu
Kami pun sadar siapa wajah-wajah seram yang mengejar kami
Saat itu Kantor Bupati sudah jauh di belakang kami.


Guntur, 140307
* diambil dari: Claire Holt, Melacak Jejak Perkembangan Seni Di Indonesia, Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia, Bandung, 2000; 444-446

Jumat, 09 Februari 2007

Wajah


Wajah jelek ini siapa punya?
Cermin di depanku mengeluh.
Aku pun mencari jawab:
buruk muka cermin dibelah.
Cermin retak di depanku tiba-tiba menangis.
Dan katanya?! “Aku dan kau, jelek engkau.”

Jakarta, 9 Februari 2007

Senin, 16 Oktober 2006

B i l a

Bila ini yang dinamakan cinta
Tentunya tak akan seperti daun-daun yang berguguran
Pada sebuah musim
Pun pohon-pohon Jati yang meranggas ketika kemarau tiba
Bila ini: cinta
Tentunya tak akan seperti hari-hari yang berlalu tanpa arti
Pada musim yang silih berganti
Pun detak-detak jantung yang sering lewat begitu saja
Aku ingin seperti bunga-bunga bermekaran tak mengenal musim
Pun cerita, cerita yang tak pernah berakhir
Harum-wanginya membangkitkan orang-orang mati
Menggerakkan orang-orang lapar
Bila ini memang cinta

Tebet, 16 Oktober 2006

Minggu, 17 September 2006

Kupang



untuk Ale

Kami menari di antara batu-batu karang dan bunga-bunga bougenville. Kami lupa kesedihan. Malam begitu setia sampai pagi pun terlupakan bahkan kami lupa kalau kami tertidur nyenyak di atas batu-batu karang.

Tebet, 17 September 2006

Jumat, 10 Februari 2006

Sekali Petik Selesai Sudah



di langit kita menggantungkan harapan
pada puncak-puncak gunung kita berharap
sekali petik selesai sudah
lalu tertawa menyusuri sungai berbatu-batu

di lembah kita menggantungkan harapan
pada gubuk tua dan rahasia daun-daun nenek moyang kita berharap
sekali petik selesai sudah
lalu tertawa menari pada pesta panen

di malam kita menggantungkan harapan
pada laju kembara angin segala penjuru kita berharap
sekali petik selesai sudah
lalu kita tertawa sepanjang hidup diselingi tawa anak-anak riang

di pagi buta kita menggantungkan harapan
pada kabut dan harum bunga-bunga kita berharap
sekali petik selesai sudah
lalu kita tersenyum menyaksikan segala tumbuh dan berkembang

di tangan-tangan yang baru kita menggantungkan harapan
pada masa yang terus melaju kita berharap
sekali petik selesai sudah
lalu kita terbang di awan melintasi ruang dan waktu tanpa batas.


Jakarta, 10 Februari 2006