Rabu, 25 April 2001

Sajak Kata-Kata


kata-kata adalah senjata
di mulut penyair
di tangis bayi-bayi
di caci-maki nabi-nabi

begitulah
padamulanya adalah kata
bila kata tak ada
apalagi yang kita punya

wahai, penyair
tuliskanlah kata-katamu
di dinding-dinding batu
agar setiap jaman membacamu
teriakkanlah kata-katamu sebagai makian
pada mereka yang dzalim

kata-kata adalah senjata
bila kata tak ada
apa lagi yang kita punya?

Jakarta, 25 April 2001

Senin, 25 September 2000

Hari Itu Pasti Datang

Hari ini tak didapat
Menemuipun tak
Kami pasti datang lagi
Pada lorong-lorong gelap sambutan datang
Dari pabrik-pabrik terdengar pesan
“Revolusi sekarang juga”
Wahai!
Mimpi-mimpi kami belumlah usai
Seperti orang-orang terpanggil kami datang
Kamu yang berdiri begitu jauh
Suatu saat akan terlihat di matamu
Kumpulan melawan
Hari itu pasti datang

jakarta 25 september 2000

Minggu, 02 Juli 2000

Laut Datanglah! Kami Ingin Menari Maut Bersamamu

Dari desa-desa kami datang
Dari gunung-gunung
Dari pinggir-pinggir pantai
Kami datang
Tersingkir
Terhina
Terhisap
Di kota-kota modal
Kami bekerja siang malam
Kamu berpesta. Pesta. Pesta.
Berapakah air yang kamu buang untuk memandikan mercedes-mu?
Lebih banyak yang kami buang untuk memandikan tubuh kami?
Betapa sayangnya kamu pada rumput di tamanmu
Kami injakpun tak boleh
Sampah! Terkutukkah kami?
Laut! Laut! Datanglah!
Kami ingin menari maut bersamamu
Gelombangmu
Ombakmu
Di pasang surutmu
Kemarilah
Menari, mengombak di kota-kota kami
Kami telah lama bukan manusia
Kami ingin hidup

Jakarta, 2 juli 2000


Rabu, 05 Januari 2000

Kepada Kawan



Bacalah aku
Lama aku menderita
Di jaman perbudakan, feodal dan kini perbudakan upah
Sayang!
Jangan memalingkan muka kepadaku
Katakanlah aku mencintaimu agar aku bangkit
Dari lumpur penghinaan
Bebas dari belenggu penindasan
Percayalah: akulah kawanmu untuk hidup baru
Temuilah aku atau aku menemuimu?
Mari kita bicara
Dan janganlah berkata “terlambat”
Kepadaku
Bersama kita kan berangkat
Bersama kita kan bekerja
Bersama kita kan keluar
Bersama kita kan mengarungi
Lautan kejam menuju Tanah Pembebasan
Seperti yang telah dijanjikan dalam cerita-cerita nenek moyang kita
Pastilah kita sampai jua
Jangan memalingkan muka kepadaku
Akulah kawanmu:
Buruh, tani dan kaum miskin kota

Darmawangsa, 5 Januari 2000

Senin, 06 Desember 1999

Pada Kawan Yang Mati (Iqbal Firmansyah)


kapanpun kematian datang tak masalah
asalkan telah kita berikan hidup ini
untuk hidup tanpa penindasan dan penghisapan
jalan kita memang berliku
tak semua orang bisa ikut
yang pertama bisa menjadi yang terakhir
yang terakhir bisa menjadi yang pertama
mendaki?
menanjak?
jatuh?
Tak masalah
Asalkan telah kita simpulkan
Bahwa rakyat pasti menang
Kematian, silahkan menjauh
Datanglah segera bumi manusia yang hidup
Kejam? Ya begitulah
Realitas
Orang-orang meminta di malam sunyi
Di atas bumi seperti di dalam surga?
Pernah juga bersama dalam cerita-cerita yang seram
Banyak kawan yang mati entah di mana
Kuburnya pun tak diketemukan
Hanya nama dan kenangan yang tinggal
Berbahagialah bila kematian kita tercatat
Tapi biar saja orang mati entah di mana
Asalkan telah ditemukan cintanya pada hidup
Hingga tak ada lagi orang meminta mati
Kapanpun kematian datang tak masalah
Bahkan ini hari
Asalkan sudah ada satu telinga mendengar
Seruan perlawanan kita
Dan satu tangan yang siap melanjutkan tongkat perjuangan kita
Katamu mengutip Che

Jakarta, 6 Desember 1999

Selasa, 28 April 1998

Kami Ingin Matahari Baru

Matahari di atas kami. Angkuh dan sombong
Seperti mereka yang duduk di atas kepala dan punggung kami
“Ayo, terus tarik! Tancap gas! Belok kiri-belok kanan! Yaa… berhenti!”
Puih! Kami antar mereka sekolah, bekerja dan pergi bolak-balik
Kami tidak ngerti apa yang mereka bicarakan
Apa yang mereka bela. Apa yang mereka ketawakan
Apakah mereka juga berbicara tentang kami?
Keringat sudah lama basahi baju. Matapun mulai rabun
Dan otot pinggang mulai menegang
Pantat sebentar saja selalu menggeliat
Matahari itu sudah terlalu lama di atas kami
Tiga puluh tiga tahun
Semakin angkuh dan sombong. Panasnya bikin kemi sengsara
Tapi mereka yang duduk di atas kepala dan punggung kami
Masih saja berteriak:
“Ayo, tarik. Tancap gas! Belok kiri-belok kanan! Yaa…Hop! Kiri,Bang”.
Ah, ya kapan matahari itu kan terbenam
Angkuh dan sombongnya bikin kami muak
Kami ingin matahari baru
Yang sinarnya menyegarkan jiwa. Bikin kerja jadi hangat
Keliling kota, bolak-balik sepertinya mengantar dan mengunjungi sahabat

Yogyakarta, 28 April 1998

Minggu, 01 Februari 1998

Kepadamu


Kepadamu
Kuberikan
Lagu penuh harapan

Nyanyikanlah di hatimu
Agar aku tak menjauh

Biarkan cinta berlabuh
Di hati yang rindu
Kita kan mendayung jauh
Ke pulau abadi

Depok, Februari-Maret 1998