Sabtu, 17 Januari 2009

Sajak Rindu III



Tak seperti air yang selalu
Menemukan muara
Tak seperti penyair yang selalu
Menemukan kata
Tak seperti pemburu yang selalu
Menemukan mangsa
Tak seperti malam yang selalu
Menemukan pagi
Aku sia-sia
Tak pasti
Dalam bayangmu



Jakarta , 17 Januari 2009

Rabu, 03 Desember 2008

Mulut




untuk lastri

mulut ini jangan sampai kau bungkam
biarkan berbisik sesayup angin
seperti dentang lonceng para rahib:
memanggil petani pulang
atau seruan Bilal bin Rabah untuk penghancuran perbudakan
pun biarkan  berteriak murka pada segala angkara
atau cukup: sebagai ajakan saja
mulut ini jangan  kau bungkam
biarkan seperti hujan yang menyisakan cahaya pelangi kehidupan kita
atau senja merah yang membara
pun bila perlu hujan dan angin yang membadai menyapu kemunafikan 
mulut ini jangan kau bungkam
bahkan sehari saja

Jakarta, 3 desember 2008

Selasa, 25 November 2008

Puisi:



untuk cantik


Kupeluk kau agar tak jatuh

Kuucap jadi doa

Kupikir jadi mata

Tak sesat

Sepanjang saat



Jakarta , 25 November 2008

Rabu, 05 November 2008

U A N G

Aku menyusuri jalanan kota
Kulihat langit mendung hitam berarak
Di antara lalu lalang orang-orang tergesa
Dan mereka yang mimpi: hujan uang segera tiba

Di dalam gedung-gedung menantang kuasa langit
Uang telah menjadi berhala yang diharap beranak-pinak
Tanpa kerja

Aku bertanya kepadamu
Dari mana semua orang ini mendapatkan uang?
Jawabmu dingin:

“Sewa, laba, upah.”

Hanya itu?

“Di luar itu, lumpen.”

Aku menyusuri jalanan kota
Kulihat orang-orang bekerja demi upah
Dalam pabrik-pabrik yang pengap tanpa K3
Kulihat pula orang mulai menghitung laba
di antara tetesan keringat buruh menanti upah sebulan
Dan mereka yang berbahagia di pagi hari
atas sewa tanah yang tak tergugat
sambil menyeruput secangkir teh hijau

Di perempatan jalan,
orang-orang tergeletak menanti recehan jatuh
penyanyi jalanan bernyanyi serak
diiringi gitar dengan dua senar yang putus

kota ini siapa punya…kota ini siapa punya?”

Aku lihat para pelacur mulai menjajakan diri
Di antara tiang-tiang lampu jalanan kota yang berdiri angkuh
menerangi wajah-wajah yang menangisi nasib
Karena ketrampilan diri tak laku di pasar tenaga kerja

Dan jutaan penganggur berjalan gelisah
dari desa-desa yang kerontang
berharap ada malam yang ramah di kota terakhir
sambil terus bertanya:
“di mana kami bisa bekerja?!”
Tak ada jawab walau berjuta tanya
menghantam dinding-dinding kota  

Hari menjelang pagi
Setelah malam tanpa tidur yang nyenyak
Tak lelah menanti fajar kemakmuran tiba

Tapi di kota ini apa yang bisa diharapkan
Bila  uang hanya mengalir ke kantong-kantong pemungut laba?



Jakarta, 5 November 2008 


Senin, 18 Agustus 2008

tentang perubahan dan sebuah gerakan

untuk dis

seandainya
aku punya mimpi
aku ingin bermimpi
tentang perubahan dan sebuah gerakan

seandainya
aku punya gagasan
aku ingin menggagas
perubahan dan sebuah gerakan

seandainya
aku punya cerita
aku ingin cerita
tentang perubahan dan sebuah gerakan

seandainya
aku berpikir
aku ingin memikirkan
perubahan dan sebuah gerakan

seandainya
aku bekerja
aku ingin bekerja
hanya untuk perubahan dan sebuah gerakan

setidak-tidaknya
untuk diriku sendiri

Jakarta, 18 Agustus 2008

Sabtu, 09 Agustus 2008

P E R G I

Begitu cepat waktu berlalu.

"Hai, Jangan pergi..."



Tebet Dalam, 9 Agustus 2008

Jumat, 08 Agustus 2008