Buruan, novel, Putu Oka Sukanta, terbit 2009, harga Rp 35.000,
pesan sms/wa 081286959527
https://www.goodreads.com/review/show/88156032
Jumat, 12 Februari 2016
Minggu, 07 Februari 2016
ABAD DEMOKRASI TERPIMPIN, Koesalah Soebagyo Toer, kronik
Kronik
ABAD DEMOKRASI TERPIMPIN
penyusun: Koesalah Soebagyo Toer
Penerbit : JAKER, 2016
Harga Softcover: Rp 200.000,
Harga Hardcover Rp 250.000,
pesan sms/wa: 081286959527
http://www.berdikarionline.com/buku-kronik-era-demokrasi-terpimpin-sudah-terbit/
ABAD DEMOKRASI TERPIMPIN
penyusun: Koesalah Soebagyo Toer
Penerbit : JAKER, 2016
Harga Softcover: Rp 200.000,
Harga Hardcover Rp 250.000,
pesan sms/wa: 081286959527
http://www.berdikarionline.com/buku-kronik-era-demokrasi-terpimpin-sudah-terbit/
MATA GELAP, Mas Marco Kartodikromo, novel
Mata Gelap, sebuah Novel yang terbit pertama tahun 1914, diterbitkan kembali oleh JAKER setelah seabad, disunting oleh Koesalah Soebagyo Toer,
Harga Rp 50.000,
Pemesanan: sms/wa 081286959527
http://www.berdikarionline.com/koesalah-soebagyo-toer-karya-tulis-harus-dianggap-sebagai-prestasi-dan-dihargai/
Harga Rp 50.000,
Pemesanan: sms/wa 081286959527
http://www.berdikarionline.com/koesalah-soebagyo-toer-karya-tulis-harus-dianggap-sebagai-prestasi-dan-dihargai/
Senin, 18 Januari 2016
Rumah Tua
Rumah tua di
kotaku
yang dahulu kokoh
di masa kanakku
kulihat semakin renta
terbungkuk karena
jaman
tak berdaya
menunggu kebangkitan
atau tenggelam dalam
sejarah
yang tak membela
Dikenang dalam
cerita
yang tak ingin
diceritakan
kecuali karena cinta
di sana aku
dilahirkan
dibesarkan hanya
untuk pergi
ketika kembali tak berdaya
bahkan
hanya untuk mempercantik pagar
di tepian jalan
Sementara rumah muda
terus mendesak
dengan gairah warna yang ceria, anggun,
merangsang meminta
segala sesuatu datang
sambil berkata: "Masa depan
milikku!"
Rumah tua dari
kemakmuran lalu
menunggu hari-hari
terakhir
Rumah muda
kemakmuran kini
belum tahu kapan
sampai akhir!
Pedan, 18 Januari
2016
Rabu, 16 Desember 2015
Sungai Cirarab
Sungai Cirarab
mengalir persis di
belakang rumah yang kukontrak
bau menyengat
berwarna hitam
seakan memberi
pesan
dari pabrik-pabrik
yang gelisah dilewatinya tanpa permisi
dan rakyat Sungai
Cirarab yang semakin suram
"Sebelum kamu
ada, aku bermain, memandikan dan membesarkan anak-anak Cirarab dengan saling
membahagiakan. Nasibku yang gelap bau sekarang barangkali senasib dengan
buruh-buruh yang tak rela memeras keringat untuk kenikmatanmu semata, juga rakyat
tanpa kerja, mereka yang telah kehilangan pekerjaan dan hidup tanpa jaminan sosial"
Sungai Cirarab
sepanjang tahun-tahun
yang kukenal
hingga hari ini
tak berubah
Selalu mengaduh
dan mengeluh
sebagaimana buruh-buruh yang berjuang
menuntut perbaikan upah dan kondisi kerja
Sungai Cirarab
mengalir lesu
tak berdaya tak
tahu kemana mengadu
masih saja
orang-orang yang tak mengenal
kebaikannya
melemparkan sampah tanpa mantra dan doa-doa keselamatan
sebagaimana dahulu
para leluhur mengajarkan
Sungai Cirarab
menunggu hari
pembalasan
sebagaimana Perahu Nuh akan berlayar
sebagaimana
buruh-buruh dan rakyat senasib percaya
pada datangnya
pembalasan.
Rakyat yang
menjadi hakim!
Kamis, 19 November 2015
Kembali pada Puisi
Oleh AJ Susmana
SECARA metode, tidaklah sulit untuk memahami hati suatu bangsa. Cukuplah kiranya kalau mau dengan susah payah memahami puisi-puisi yang diucapkan, ditulis, dibaca dan dilagukan oleh bangsa tersebut. Melalui puisi-puisi tersebut akan didapat pengetahuan suka-duka kolektif suatu bangsa yang mengarungi jaman beserta ketakutan dan kegembiraan melihat masa depan.
Puisi-puisi itu pun bisa berupa peribahasa dan pesan-pesan didaktik sebagaimana bisa kita baca pada Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji atau juga Kitab Nyanyian, antologi puisi pertama dalam sejarah China meliputi periode selama 5 abad dari awal Dinasti Zhou Barat abad ke-11 SM hingga pertengahan Periode Musim Semi dan Musim Gugur abad ke-6 SM. Konon pada mulanya terdiri dari 3000-an puisi; lantas diseleksi Confusius menjadi 305 puisi. (lihat: Li Xiaoxiang, Asal Mula Sastra China Klasik, Elex Media Komputindo, Jakarta, 2010;6) Info lain menyebutkan, semula hasil seleksi Confusius berjumlah 311 puisi. Enam puisi hilang waktu terjadi pembakaran kitab.
Sebegitu pentingkah puisi? Ketika sudah begitu banyak dihadirkan bentuk seni pun sastra terutama prosa seperti cerita pendek dan novel yang begitu bergengsi di mata masyarakat dan lebih mendapatkan tempat dalam masyarakat Industri; dengan begitu juga bisa dikapitalisasi lebih cepat? Jawabannya: iya. Kalau tidak ingin kehilangan sejarah dan sumber-sumber pengetahuan dari para pendahulu, haruslah juga kembali pada puisi. Ketika masyarakat atau bangsa sudah tidak mengenali lagi puisi, tentu akan sulit kembali pada jalan puisi yang pernah ditempuh nenek-kakek moyang. Tanpa puisi, kehidupan memang tetap berjalan tetapi sudah jelas akan banyak pengetahuan yang hilang lenyap begitu saja. Tak kurang dari Ibnu Khaldun, cendekiawan muslim abad pertengahan, dalam Mukaddimah mengingatkan bahwa syair merupakan kumpulan catatan bangsa Arab. Di dalamnya terdapat ilmu pengetahuan, informasi, dan falsafah-falsafah hidup mereka (Mukaddimah, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 2001;1072).
Hal yang sama juga terjadi pada bangsa-bangsa di Nusantara. Dari Pustaka Jawa Kuna atau Kawi, yang ditulis dalam bentuk (puisi) Kakawin misalnya Arjunawiwaha karya Mpu Kanwa, Kresnayana karya Mpu Triguna, Sumanasantaka karya Mpu Manoguna, Smaradahana karya Mpu Dharmaja, Bhomakawya pengarang tak diketahui, Bharatayudha karya Mpu Sedah dan Mpu Panuluh, Hariwangsa karya Mpu Panuluh, Gathotkacasraya karya Mpu Panuluh, Wrettasancaya karya Mpu Tan Akung, Lubdaka karya Mpu Tan Akung, Brahmandapurana pengarang tak diketahui, Kunjarakarna pengarang tak diketahui, Negarakretagama karya Mpu Prapanca, Arjunawijaya karya Mpu Tan Tular, Sutasoma karya Mpu Tan Tular, Parthayajna pengarang tak diketahui, Nitisastra pengarang tak diketahui, Nirarthaprakreta pengarang tak diketahui, Dharmasunya pengarang tak diketahui dan Harisraya pengarang tak diketahui.
Puisi-puisi bentuk Kakawin itu terentang dari awal abad ke-11 M, jaman Raja Airlangga sampai pertengahan abad ke-16 M. Semboyan dan landasan persatuan nasional kita ketika mendirikan Republik Indonesia: Bhineka Tunggal Ika adalah baris puisi yang dikutip dari Kakawin Sutasoma karya Mpu Tan Tular, yang hidup pada masa Kerajaan Majapahit, abad ke-14 M. Pelajaran dari Mpu Tantular mengenai keharusan saling menghargai antar umat yang berbeda keyakinan serasa mendesak kemuka ketika masih saja sampai sekarang terjadi konflik antar umat beragama di Indonesia. Bentuk Kakawin inilah yang merangsang W.S. Rendra empat abad kemudian di masa Kemerdekaan, menulis puisi cintanya dengan memberi judul Kakawin Kawin yang terdapat dalam Empat Kumpulan Sajak, 1961. Ini menjelaskan hubungan atau perasaan Penyair Rendra yang begitu dekat dengan tradisi berpuisi para leluhurnya walau tak harus menggunakan metrum dan guru laghu sebagaimana dalam Kakawin.
***
Kematian puisi bagi suatu bangsa atau masyarakat tentu menggelisahkan. Pada Film Dead Poets Society, 1989 kita bisa belajar bagaimana puisi sebaiknya diajarkan dan bagaimana puisi menggerakkan kehidupan dan menjadikan murid yang jujur dan berani menghadapi keadaan. Menghalangi puisi justru berujung pada kemandegan. Pada film Poetry, 2010 garapan Lee Chang-dong pun kita dihadapkan pada hal yang sama: bagaimana puisi mesti dituliskan dan kejujuran dalam kehidupan.
Sejatinya menghidupkan puisi adalah menyatukan perasaan manusia sepanjang sejarah dalam membangun peradaban; yang menjadikan manusia menjadi semakin manusiawi. Tak tinggal menjadi binatang atau pun tak berhati seperti mesin. Begitulah sejarah evolusi manusia. Karena itu revolusi mental membangun negeri haruslah juga menghidupkan puisi. Memberikan pelajaran puisi sejak dini dalam artian usia pun juga kepada masyarakat awam yang sedari dini tidak mengenal puisi adalah bagian dari kerja-kerja kebudayaan yang tak bisa ditinggalkan. Untuk itu Pemerintah harus juga mengambil tanggung-jawab dan terlibat penuh dalam proyek ini dengan membuka pusat-pusat kebudayaan yang mengapresiasi puisi seperti mendukung penerbitan terkait puisi baik lama atau pun baru dan membuat puisi hadir dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. n
AJ Susmana, Anggota Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat -JAKER
Sumber: Fajar Sumatera, Kamis, 19 November 2015
http://ulunlampung.blogspot.co.id/2015/11/kembali-pada-puisi.html
Selasa, 15 September 2015
Legenda Filsafat
Untuk Herakleitos dan Bung Karno
Aku tak ingin
menjadi penghibur
Menyalakan lilin di pesta poramu
Yang kau pikir abadi
Aku ingin menyalakan api
Di gubuk orang-orang miskin
Yang panasnya membakar
Gedung-gedung keangkuhanmu
Lalu kamu berpikir
tentang keberadaan
Benarkah Tuhan
bersemayam
Di gubuk orang-orang miskin?
Di malam yang pengecut
Kamu letakkan api keserakahan di gubuk si miskin
Orang-orang miskin menjerit
Karena Tuhan telah diusir
Hingga di pagi yang cerah
Orang-orang miskin membaca:
DILARANG MENDIRIKAN BANGUNAN APAPUN DI ATAS TANAH NEGARA
Orang-orang miskin mulai memunguti sisa
Orang-orang kaya mulai mengumpulkan kelebihan
Di malam yang dingin
Dari lantai yang tak terjamah
Kamu melihat tarian api di gubuk si miskin
Di atas tanah Negara
Kau pun mendengar alunan lagu lama
Merayu menyeru tentang perubahan
Berulang-ulang bagaikan litani keabadian:
Segala sesuatu berasal dari api!
Langganan:
Postingan (Atom)



