Minggu, 14 Februari 2016

BURUNG-BURUNG BERSAYAP AIR, Dewi Nova, kumpulan puisi

Ia menentang penindasan segala hal; di setiap penjuru perjalanan yang ditempuh; di setiap kepakan sayapnya sejauh bisa. Ia selalu ingin mencapai lebih; sampai pada batas terakhir. Kata-kata penghabisannya sering begitu sadis:

"Lelaki yang selalu mengenakan jubah ketakutan dan menikmati rantai-rantai yang mengikat kaki ibunya"
atau yang seperti ini:
"Bhineka Tunggal Ika sekarat dipenggal anak kandungnya"
Penindasan di segala hal dan di setiap telah menggerakkan tangannya untuk terus menulis. Kata-kata tak lagi sekedar merayu tetapi juga menggugat:
"Setelah jiwaku pulih, akan kutuntut calo dan majikan!"
Ia tak bisa bersabar pada ketidak-adilan dan tak segan berlawan dengan keras:
"Kau ambil parang kami, kurampas senjata kalian!"
Walau begitu, Ia tak harus selalu berlawan:
"Sarapan pagi ini:
Seiris roti yang tak siap dengan perbedaan
Secangkir kopi pahit kekerasan
Aku mencari teman duduk"
***
Tak sengaja aku bertemu dengannya tahun 2003 ketika sedang bersemangat membangun Partai di Kota Bougenville. Ia berkisah sedikit tentang dirinya yang didewasakan oleh pergerakan di kota pergerakan sejak dahulu: Semarang.
Lalu bersepakat untuk membukukan Kemarahan, kerinduan, dendam, benci, cinta dan asa di setiap perjalanan yang telah ditempuh dalam Burung-Burung Bersayap Air, Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat - JAKER, 2010.


Burung-Burung Bersayap Air, kumpulan puisi, Dewi Nova, 2010, 
Harga Rp 30.000
pesan sms/wa 082124614776





Sabtu, 13 Februari 2016

IBU, MAAF AKU NAKAL, Yanti Irawan, kumpulan puisi

Ibu, Maaf Aku Nakal, kumpulan puisi, Yanti Irawan, 2010, Rp 25.000,

pesan sms/wa 081286959527



Jumat, 12 Februari 2016

BURUAN, Putu Oka Sukanta, novel

Buruan, novel, Putu Oka Sukanta, terbit 2009, harga Rp 35.000,
pesan sms/wa 081286959527




https://www.goodreads.com/review/show/88156032

Minggu, 07 Februari 2016

ABAD DEMOKRASI TERPIMPIN, Koesalah Soebagyo Toer, kronik

Kronik
ABAD DEMOKRASI TERPIMPIN

penyusun: Koesalah Soebagyo Toer
Penerbit  : JAKER, 2016

Harga Softcover: Rp 200.000,
Harga Hardcover Rp 250.000,

pesan sms/wa: 081286959527





http://www.berdikarionline.com/buku-kronik-era-demokrasi-terpimpin-sudah-terbit/



MATA GELAP, Mas Marco Kartodikromo, novel

Mata Gelap, sebuah Novel yang terbit pertama tahun 1914, diterbitkan kembali oleh JAKER setelah seabad, disunting oleh Koesalah Soebagyo Toer,

Harga Rp 50.000,

Pemesanan: sms/wa 081286959527




http://www.berdikarionline.com/koesalah-soebagyo-toer-karya-tulis-harus-dianggap-sebagai-prestasi-dan-dihargai/


Senin, 18 Januari 2016

Rumah Tua

Rumah tua di kotaku
yang dahulu kokoh
di masa kanakku
kulihat  semakin renta
terbungkuk karena jaman
tak berdaya menunggu kebangkitan
atau tenggelam dalam sejarah 
yang tak membela

Dikenang dalam cerita
yang tak ingin diceritakan
kecuali karena cinta
di sana aku dilahirkan
dibesarkan hanya untuk pergi
ketika kembali tak berdaya 
bahkan hanya untuk mempercantik pagar 
di tepian jalan

Sementara rumah muda terus mendesak 
dengan gairah warna yang ceria, anggun,
merangsang meminta segala sesuatu datang 
sambil berkata: "Masa depan milikku!"

Rumah tua dari kemakmuran lalu
menunggu hari-hari terakhir

Rumah muda kemakmuran kini
belum tahu kapan sampai akhir!


Pedan, 18 Januari 2016

Rabu, 16 Desember 2015

Sungai Cirarab

Sungai Cirarab
mengalir persis di belakang rumah yang kukontrak
bau menyengat berwarna hitam
seakan memberi pesan
dari pabrik-pabrik yang gelisah dilewatinya tanpa permisi
dan rakyat Sungai Cirarab yang semakin suram
  
"Sebelum kamu ada, aku  bermain, memandikan  dan membesarkan anak-anak Cirarab dengan saling membahagiakan. Nasibku yang gelap bau sekarang barangkali senasib dengan buruh-buruh yang tak rela memeras keringat untuk kenikmatanmu semata, juga rakyat tanpa kerja, mereka yang telah kehilangan pekerjaan dan hidup tanpa  jaminan sosial"

Sungai Cirarab
sepanjang tahun-tahun yang kukenal
hingga hari ini
tak berubah
Selalu mengaduh dan mengeluh 
sebagaimana buruh-buruh yang berjuang  
menuntut perbaikan upah dan kondisi kerja

Sungai Cirarab
mengalir lesu
tak berdaya tak tahu kemana mengadu
masih saja orang-orang yang tak  mengenal kebaikannya 
melemparkan sampah tanpa mantra dan doa-doa keselamatan
sebagaimana dahulu para leluhur mengajarkan

Sungai Cirarab
menunggu hari pembalasan
sebagaimana Perahu Nuh akan berlayar
sebagaimana buruh-buruh dan rakyat senasib percaya
pada datangnya pembalasan.
Rakyat yang menjadi hakim!