Senin, 18 Agustus 2008

tentang perubahan dan sebuah gerakan

untuk dis

seandainya
aku punya mimpi
aku ingin bermimpi
tentang perubahan dan sebuah gerakan

seandainya
aku punya gagasan
aku ingin menggagas
perubahan dan sebuah gerakan

seandainya
aku punya cerita
aku ingin cerita
tentang perubahan dan sebuah gerakan

seandainya
aku berpikir
aku ingin memikirkan
perubahan dan sebuah gerakan

seandainya
aku bekerja
aku ingin bekerja
hanya untuk perubahan dan sebuah gerakan

setidak-tidaknya
untuk diriku sendiri

Jakarta, 18 Agustus 2008

Sabtu, 09 Agustus 2008

P E R G I

Begitu cepat waktu berlalu.

"Hai, Jangan pergi..."



Tebet Dalam, 9 Agustus 2008

Jumat, 08 Agustus 2008

Minggu, 01 Juni 2008

Kota Ini Ada di Tubuhmu

Kota ini ada di tubuhmu
Sepuluh tahun yang lalu
hanyalah misteri dan beban moralitas
tak ada yang berbisik tentang kebenaran, tentang keberadaan
kecuali angin yang berdesir di antara berlembar-lembar bacaan para filosof
menari bersamamu di malam
diiringi musik sedih dan pemberontakan

Begitulah aku mengenalmu
Kamu berbisik yakin:
“lelaki misterius menjelaskan padaku arti pemberontakan”

Dua kota yang terbakar itu pun kamu
Pada bening air matamu yang jatuh
Ketika orang berkisah dengan bangga tentang pemusnahan
Begitulah kamu sampai di sini
Kota yang tak mengenal siang dan malam
dengan para pekerja yang miskin dan merana

Di jalanan kota yang gelap
Lorong pengap
Di siang menebar debu kematian
Bersama para pekerja dan orang-orang miskin
Kamu tak letih menjejakkan kaki
Saling berbagi pengetahuan yang terbatas
Membesarkan barisan menuju pusat kota
Membongkar penindasan… penghisapan.

Jakarta, 1 Juni 2008




Minggu, 10 Februari 2008

Drupadi


Jika aku ingin menangis
Aku tak ingin menangis di depanmu
Apakah aku tampak seperti perempuan murahan?
Yang menjajakan diri di jalanan, taman-taman dan alun-alun kota?
Setan apa yang ada di otakmu
Hingga kau jadikan aku barang taruhan?
Jika aku ingin menangis
Aku tak ingin menangis di depanmu
Begitu dinginkah hatimu
Dan kering air matamu?
Melihat aku ditelanjangi di depan umum?
Orang-orang tertawa mesum dengan wajah-wajah birahi
Kamu, yang kupikir mencintaiku
Dan kurelakan tubuh telanjangku untuk malam-malammu
Hanya membisu
Membuang muka
Oh para dewa, mengapa kamu kirimkan lelaki
Yang membisu ketika perempuannya dipermalukan?
Dan aku melihat perempuan-perempuan menutup mata dan muka
Ketika melihatku ditelanjangi beramai-ramai di alun-alun kota
Mungkinkah mereka mengalami kehinaan seperti diriku?
Ditelanjangi tanpa kerelaan diri?
Kekasihku?
Apakah aku tampak seperti perempuan murahan?
Hingga ada lelaki yang tak ragu menyeret rambutku
Menjamah tubuhku?
Dan kamu?
Membisu?
Adakah yang salah dalam diriku?
Ada memang lelaki yang kutolak cintanya karena alasan orang tuaku
Dia bukan dari golongan bangsawan
tapi tak pernah ia kecewa dan dendam kepadaku
menerima nasib dan takdirnya: lahir bukan dari rahim bangsawan
Apakah karena penolakan itu...aku kini menerima balasan?
Ditelanjangi di depan mata para lelaki yang bernafsu
Dan suamiku membisu tak bergerak?
Jika aku ingin menangis
Aku tak ingin menangis di depanmu
Aku, Drupadi yang kehilangan cinta dan perlindungan
Kemana aku harus mencari?
Di jalanan kota lebih tak aman
Perempuan-perempuan miskin
Dipaksa menari telanjang tanpa upah layak
Cuma cukup untuk makan
agar esok malam cukup kuat menari telanjang lagi
dan lagi sepanjang hidup sampai pada kematian menjemput
Dan mereka yang terpaksa dan dipaksa menjual tubuhnya
Antri ditelanjangi lelaki-lelaki kawan berjudi lelakiku
Oh para dewa kemana aku harus pergi?
Seluruh mata di kota memalingkan muka kepadaku
Dan lelaki yang telah membikin aku murahan
Membisu tanpa daya dalam kekosongan
Jika aku ingin menangis
Aku tak ingin menangis di depanmu
Lelaki yang telah membikin aku murahan
Seperti mereka, para perempuan yang dihinakan di kotaku
aku membisu dalam dendam tak berkesudahan
dalam kamar-kamar kesendirian
sampai fajar menyingsing
Lelakiku! Lelakiku!
Air mata ini terlalu mahal untuk ditumpahkan di depanmu
Aku, Drupadi yang kehilangan cinta dan perlindungan
Kemana aku harus mencari?
Tentu tidak kepadamu

Jakarta, 10 Februari 2008










Sabtu, 12 Januari 2008

Bergegaslah



untuk petro

lampu-lampu kota mulai menyala
deras dan rintik hujan saling berbagi waktu
aku berdiri menanti di emperan toko
hembusan angin menerpa wajahku

seakan membawa pesan

:"jangan takut. tak ada badai. bergegaslah."

Jakarta , 12 Januari 2008

Rabu, 14 Maret 2007

Lari


Kami berlari
dari kejaran dan perburuan
Wajah-wajah seram seperti hadir
di kepala kami
“Hantu?”
“ Oh, bukan. Bukan. Itu hanyalah bayangan”
Daun-daun gemerisik membisikkan pesan para petani
Dongengan nenek moyang dan danyang-danyang desa
Bulan kusut masai di antara tarian awan-awan hitam
Perempuan dari Dusun Girah itupun membayang
Menari, mengaum seperti singa betina takut kehilangan anaknya
matanya memerah memanggil roh-roh jahat
Petaka rakyat
Rambut durga pun diterpa angin
Membadai tak terhalang berdiri di ketinggian
Menunjuk dan menertawakan dewa-dewa Airlangga
Guyang langsung menari
lengan terentang
sesekali bertepuk tangan tenang
duduk di atas tanah
berputar-putar
matanya melotot
memutar kepala kiri-kanan.
Larung pun menari
seperti harimau yang akan meloncat
matanya merah
telanjang
rambutnya terjurai lepas di depan wajahnya.
Gandi menari meloncat-loncat;
rambutnya tergantung lepas ke samping.
Matanya pun merah-bundar seperti sebuah ganitri.
Lende menari di atas ujung-ujung jarinya
membuat loncatan-loncatan pendek,
Matanya membara seperti api yang akan menyala.
Rambutnya tergantung lepas.
Wokcirsa menari
membongkok ke depan,
memandang ke belakang,
matanya terbuka lebar
memandang dengan tajam.
Rambutnya tergantung lepas ke samping
ia pun telanjang.
Mahisawadana menari
kedua tungkainya menutup bersama;
ia berlari di atas tangannya
menjulurkan lidahnya yang bergetar
kedua tangannya bergerak
mencoba untuk meraih sesuatu.
Ketika semua telah menari,
Calon Arang, perempuan Girah itu pun tertawa riang*
Hantu? Bukan
Dia hanyalah bayangan seperti permainan anak-anak
Menari menggoda pada terang bulan
Tapi bukankah Mpu Baradah telah membunuhnya?
Kami berlari
dari kejaran dan perburuan
Wajah-wajah seram seperti hadir
di kepala kami
sungai membentang di depan kami
dan nafas kami tak beraturan
kugandeng tangannya
berjalan perlahan ketepian
hanya kaki-kaki kami yang menjadi mata kami
“Lewat sini!”
Kami melihat gadis desa yang manis memanggil tak ragu
Kami pun sadar siapa wajah-wajah seram yang mengejar kami
Saat itu Kantor Bupati sudah jauh di belakang kami.


Guntur, 140307
* diambil dari: Claire Holt, Melacak Jejak Perkembangan Seni Di Indonesia, Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia, Bandung, 2000; 444-446