Tak Kan Melupakanmu
Kumpulan Cerpen Putu Oka Sukanta
harga: 30 ribu
pesan sms-wa 082124614776
Minggu, 21 Mei 2017
Selasa, 16 Mei 2017
Kamis, 04 Mei 2017
O Angin!
untuk Kertanagara
O Angin!
Datanglah!
Kita adalah putra-putra Sang Bayu
Ditakdirkan untuk keselamatan dunia
Di garis paling depan kita menuju
Tanpa takut tanpa ragu
Khubilai Khan jangan terus maju
O Angin!
Bergeraklah!
Kita adalah putra-putra Sang Bayu
Bagaikan Hanoman melompati lautan
Mengawasi Raja Angkara murka
Begitulah kita menyeberangi lautan
Mengawasi langkah Khubilai Khan
O Angin!
Lajulah!
Kita adalah putra-putra Sang Bayu
Di lautan, Bima menemukan kebenaran
Begitulah kita pada hari ini
Membuktikan bahwa laut adalah
Kebenaran
Khubilai Khan, jangan kau terus
maju
O Angin!
Bersatulah!
Kita adalah putra-putra Sang Bayu
Bawa kita pergi dan pulang
Dalam kemenangan yang cepat
Ayo, Majulah kawan-kawanku
Sebab kemerdekaan terancam!
wa 081319468153
https://www.tokopedia.com/wongntan/menghadang-kubilai-khan
https://play.google.com/store/books/details/AJ_Susmana_Menghadang_Kubilai_Khan?id=ujY8EAAAQBAJ
Minggu, 30 April 2017
RAMBUT
Rambut di kepala ini masih
tampak menghitam
Di usia empat enam
Menutup punggung menjilat pantat
Satu dua..ada yang putih
Di usia empat enam
Menutup punggung menjilat pantat
Satu dua..ada yang putih
Kulihat rambut Ibuku tampak
memutih
Di usia enam sembilan
Pun menutupi punggung
Satu dua..ada yang masih hitam
Di usia enam sembilan
Pun menutupi punggung
Satu dua..ada yang masih hitam
Di bulan Januari tahun ini,
aku melihat Ibuku mengumpulkan rambut-rambutnya yang berjatuhan
Katanya,"Masih bisa diuangkan. Kumpulkan saja rambutmu yang jatuh. Kasihkan Ibumu."
Katanya,"Masih bisa diuangkan. Kumpulkan saja rambutmu yang jatuh. Kasihkan Ibumu."
Setiap kali aku memunguti
rambut-rambutku yang berjatuhan, aku mengingat wajah Ibu
Menjadi rindu yang bertumpuk-tumpuk
Juga pada kisahnya yang memilukan tentang tragedi negeri di tahun enam lima
Menjadi rindu yang bertumpuk-tumpuk
Juga pada kisahnya yang memilukan tentang tragedi negeri di tahun enam lima
Kubawa gulungan rambut ini
sejauh enam ratus kilometer kepadamu,Ibu.
Kerinduanku tak pernah berakhir
Kerinduanku tak pernah berakhir
Dan kisahmu belum juga berakhir
Pedan, 26 April 2017
Sabtu, 29 April 2017
Di Tahun 1965
Untuk …
……………………………………………….
Tanpa permisi
Di sini kecelakaan bisa terjadi
Persis di jalan menikung ke kiri
Dekat kuburan desa
Di sini tiga puisi diseret dan digebuki
Hingga mati
Karena menari
Karena menyanyi
Pedan, 2017
PASKAH
Ini tubuh telanjangku
Masih jelas goresan luka
darimu
pun tubuhku masih nyata
menggantung di langit-langit hatimu
“Consummatum est!”
Semua sudah selesai tapi
kau tak percaya
Masih kau kejar aku di
sudut paling sudut
Tak puas goresan yang lalu
Siapa terluka?
Aku akan bangkit
Entah hari ke berapa
Selalu menjadi tanya
Menjadi sebab:
Roma akan jatuh hanya
semalam
Kamu pun berjaga sepanjang
malam
Kebangkitan hanyalah dongeng menakuti anak-anak
Tetapi anak-anak bernyanyi
riang menyambut fajar merah
Dia sudah bangkit!
Di mana? Di mana?
Roma selalu bertanya di
antara nyanyian burung hantu:
Dia sudah bangkit!
Dia sudah bangkit!
Aku pun bangkit
Pada saat itu Roma jatuh
hanya semalam
Menjadi kenyataan
Sabtu, 15 April 2017
SAJAK PETANI
Aku mencium bau tembakau
Di sana ada petani yang tersingkir
Aku meminum air kemasan
Di sana ada petani yang tersingkir
Aku mencium harum ganja
Di sana ada petani yang tersingkir
Aku mencium bau semen yang diaduk
Di sana ada petani yang tersingkir
Aku memasuki hutan lindung dan cagar alam
Di sana ada petani yang tersingkir
Aku meluncur di jalan bebas hambatan
Di sana ada petani yang tersingkir
Aku memancing ikan di bendungan
Di sana ada petani yang tersingkir
Aku menikmati pembangunan
Di sana ada petani yang tersingkir
Aku mendengar doa-doa untuk pembangunan
Di sana petani disingkirkan
Kuta Baru, 11 April 2017
Langganan:
Postingan (Atom)




