Minggu, 21 Juni 2015

PANTURA

Lagu ini diambil dari kumpulan Puisi "Ibu, Maaf Aku Nakal" karya Yanti Irawan








Tuhan turunlah kesini..
Ya
Turun sedikit lagi
Injak tanah ini
Dan rasakan telapak kaki yang terpanggang
Tanah kering terpecah karena panas

Gulungan ombak yang menari hampa
Daun-daun jati yang kering
Rontok dan sebagian terbakar

Aku jejaki pantura
Hampir setiap senti
Kau pun kuharap begitu

Tuhan turunlah kesini
Ya
Lebih dekat lagi, rasakan angin kering
Yang menyelusup lewat pori-pori
Mata-mata yang menyedihkan
Kau lihatkan?



Gilimanuk, oktober 2002





Sabtu, 20 Juni 2015

Detik adalah Perjuangan



Klara Akustia adalah salah satu nama samaran dari nama yang cukup dikenal dalam deretan sastrawan angkatan 1945, yaitu AS Dharta. Nama AS Dharta sendiri ternyata masih merupakan nama samaran dari Endang Rodji, yang dilahirkan di desa Cikondang, Cianjur pada 7 Maret 1924 dan meninggal pada 7 Februari 2007.

Rangsang Detik, karya Klara Akustia ini, pertama kali diterbitkan 1957 oleh Yayasan Pembaruan, Jakarta. Penerbitan kedua, April 2007 oleh Mata Pusaran, Jakarta. Di dalam buku itu terentang sajak-sajak Klara Akustia dari tahun 1949-1957. Tak cukup banyak puisi dalam buku itu, tapi cukup mewakili rentang perjalanan hidup Klara Akustia sendiri dan pandangan-pandangan mengenai revolusi Indonesia.

Membaca sajak-sajak di dalamnya tanpa referensi yang cukup tentang angkatan 1945 dan revolusi Indonesia tentu akan membuat pembaca tak berhasil memasuki kedalaman estetis Klara Akustia yang heroik, cinta kehidupan dan perjuangan pembebasan ummat tertindas. Orang mungkin akan mencapnya sebagai kumpulan sajak slogan semata, walau memang sajak-sajak Klara Akustia tidak menolak untuk dimasukkan dalam genre sajak-sajak perlawanan yang penuh kata-kata sloganistis.

Kedalaman estetis Klara Akustia dalam memandang kehidupan tampak sejalan dengan pandangan estetika Chernyshevsky (1828-1889), bahwa hakikat keindahan adalah kehidupan. Itu tertuang dalam desertasi Chernyshevsky tentang filsafat keindahan. Disertasi Chernyshevsky ini pun sudah hadir di antara kita sebagai buku berjudul Hubungan Estetik Seni dengan Realitas. Buku ini sebelumnya diterbitkan oleh BP Lekra pada tahun 1960 lalu dicetak ulang Hasta Mitra pada tahun 2002.

Karenanya, tak heran bila dalam sajak-sajak Klara Akustia akan kita jumpai pergulatan dan kehendak berjuang Klara Akustia yang menggebu-gebu dan menggelora. Hampir semua sajak dalam Rangsang Detik adalah pujaan, ajakan dan seruan memberanikan pada kelas pekerja, kaum buruh dan proletariat untuk bersatu berjuang menghapuskan penindasan dan penghisapan, mewujudkan perdamaian dan sosialisme, termasuk resiko penderitaan dan penjara seperti yang ditunjukkan dalam sajak Rukmanda (1954): Sebutkan segala penjara/dan itu adalah aku/ Tapi sebutkan juga kesetiaan/ kegairahan dan kepahlawanan/ itulah aku!

Bagi Klara Akustia, detik sebagai penanda waktu adalah sangat berharga. “Dan kita maju. Berani memilih dari detik ke detik.” Dengan begitu hidup disadari sebagai perjuangan dari detik ke detiknya sebagaimana halnya detik-detik proklamasi yang sekaligus adalah juga penanda detik-detik melaksanakan dan mewujudkan kemerdekaan Indonesia dimulai. Bahkan ia tak dapat (baca: tak mau) mundur dan lari dari detik-detik perjuangan bersama kelas pekerja ini, walaupun dirinya dipecat dari partai atas tindakannya yang salah yang menurut dirinya sendiri melakukan “kemesuman borjuis”. Sajak Berita dari Partai (1957) menggambarkan ketegaran hati dan kelurusan tekad perjuangannya: berita Partai tegakkan panji/pertempuran terhadap diri sendiri/hadapkan diriku pada pilihan:/kegairahan dari kehidupan/lucuti nafsu perseorangan/atau layu dalam mati sebelum mati...

Hal lain yang masih harus disampaikan atas penerbitan buku ini justru catatan ketidak hati-hatian Eka Budianta yang menulis epilog dari buku ini. Misalnya komentarnya untuk sajak Jalan Terus (1950). Sajak ini sendiri berbentuk pertentangan pandangan antara kaum yang antikomunis dengan orang kecil yang diwakili Amat yang menginginkan “merdeka dari penjajahan sepiring nasi”. Namun oleh Eka Budianta, dengan sajak Jalan Terus justru diartikan Klara Akustia sedang mengecam komunisme. Bagi Eka Budianta, ini merupakan tindakan yang mengejutkan dan menimbulkan tanya: Mungkinkah dalam organisasi lain dimuat kecaman dan penelanjangan diri sendiri seperti ini? Saya tidak dapat membayangkan hal itu dilakukan dalam organisasi mana pun oleh anggotanya sendiri. Dengan kata lain, apa sebenarnya yang terjadi? Padahal kata kecaman dan hujatan terhadap komunisme yang dikutip Eka Budianta dalam sajak Jalan Terus itu diucapkan oleh Suurhoff. Suurhoff adalah salah seorang pemimpin buruh negeri Belanda yang tak suka buruh berpolitik.

Ketidakhati-hatiannya yang lain adalah saat dia mengutip tulisan Ajip Rosidi di harian Pikiran Rakyat, Sabtu 17 Februari 2007. Dalam artikel itu Ajip Rosidi menuliskan ”…dia gunakan juga nama samaran Yogaswara. Seperti diketahui Yogaswara adalah tokoh utama dalam roman R. Memed Satrahadiprawira yang berjudul Mantri Jero.” Sementara itu Eka Budianta menuliskan Kelana Asmara adalah nama tokoh dalam roman berjudul Mantri Jero, karya R. Memed Satrahadiprawira.

Penerbitan buku ini tentu saja memungkinkan kita menambah cakrawala estetik kehidupan berkesenian dan memandang kemanusiaan kita di tengah pandangan-pandangan estetik seni yang terus berkembang pasca Orde Baru tumbang. Karenanya sudah selayaknya kita menyambut kemunculan buku ini yang hampir selama Orde Baru berkuasa hilang dari rak-rak perpustakaan resmi. Terlebih lagi bila kita ingat ucapan Subagio Sastrowardoyo dalam Bakat Alam dan Intelektualisme bahwa “sajak-sajak perlawanan Taufik Ismail dan penyair-penyair segenerasi tidak lebih tinggi nilai sastranya daripada yang dihasilkan oleh Klara Akustia dan kawan-kawan separtainya.” (lihat juga kutipan dalam sampul belakang buku ini yang diambil dari esai Martin Aleida, Prosais, menulis dalam Khazanah, Pikiran Rakyat , 3 Maret 2007).







Kota Ini Penuh Kata


Membaca puisi adalah menafsirkan kata-kata, menafsirkan makna, dan menafsirkan cerita pendek. Membaca puisi-puisi karya AJ Susmana yang dibukukannya dalam antologi puisi tunggal Kota Ini Ada Di Tubuhmu seperti mengikuti perjalanan penulis. Lelaki yang kerap dipanggil Mono-bahkan kawan-kawan dari masa lalunya memanggilnya Antun–ini menuliskan cerita-cerita yang ia temui dalam setiap kembaranya. Depok, Jakarta, Tangerang, Klaten, Yogyakarta, dan Semarang adalah kota-kota yang memiliki banyak arti bai penulis. Bukan tanpa sebab ia memilih judul yang ia ambil dari salah satu judul puisinya sebagai judul antologinya. Kota ini Ada Di Tubuhmu [1] menceritakan sebuah kota yang penuh sesak dengan manusia urban, kemiskinan, dan kemarahan. Pada puisi ini Mono secara ‘manis’ menceritakan tentang kisah percintaan yang dibumbui dengan agitasi.
Menariknya membaca karya-karya Mono yang ada di dalam antologi puisi ini adalah membaca agitasi yang manis. Sangat berbeda dengan puisi-puisi perjuangan yang rata-rata dituliskan sangat mirip dengan pamflet atau puisi pamflet. Mono tahu betul bagaimana mengolah kata dan memilih diksi, sehingga pembaca pun tidak merasa diagitasi. Seperti pada puisinya yang berjudul Karena [2], ia menceritakan dengan lugas bagaimana kemiskinan dan bagaimana mengatasinya.
Cover buku 'Kota Ini Ada Di Tubuhmu'
Cover buku ‘Kota Ini Ada Di Tubuhmu’
Karena buruh diupah rendah
Karena buruh seperti sapi perahan
Karena petani-petani tak bertanah
……
….
Karena semua itu!
Kubrikan kepadamu!
Pemberontakan!
(Tangerang, 24 Februari 2002)
Sebuah agitasi yang manis, bukan? Ya, agitasi yang manis.
Mono tidak lagi terjebak pada puisi-puisi perjuangan yang dibuat seperti puisi pamflet. Ia justru menjauhi bentuk-bentuk puisi pamflet yang terkesan “garing”. Ia bahkan banyak menggunakan metafor, namun metafor-metafor yang ia gunakan tidak berjarak dengan pembaca. Seperti yang ada di puisinya yang berjudul, Untuk C [3]. Pada puisi ini ia menceritakan tentang kondisi sosial yang carut marut, kerinduannya pada keheningan dan tentang asal penindasan.
Di sini
Di antara yang tertindas
Tak ada langit dan matahari
Atau bulan di malam
….
Aku rindu pada kaki-kaki langit
Aku rindu perempuan desa
Aku rindu mencium bunga-bunga gunung
Ijinkan aku berlari di ketinggian
….
….
Di antara yang tertindas
Tak ada langit. Tak ada matahari
Seperti doa-doa para rahib tak bertepi
Ijinkan aku terbang sejenak
Di ketinggian
Biar kulihat
Segala api berasal dari penindasan
(Cipondoh, 23 Februari 2002)
Jika dilihat dari konten, isi buku puisi Mono ini sangat kompleks. Ia tidak melulu menuliskan tentang penindasan yang dilakukan oleh negara, seperti pada puisinya yang berjudul Katakan Saja Pada Anak-anak Apa Yang Kamu Tahu[4]Pada Kawan Yang Mati (Iqbal Firmansyah)[5], tetapi juga penindasan yang dialami para perempuan. Seperti puisinya yang berjudul Drupadi[6], bahkan beberapa sajak cinta, seperti Balada Cinta Lena[7]Khusus tentang puisi Balada Cinta Lena, Mono menjadikannya sebagai puisi penutup. Dan puisi ini sangat panjang. Saya membacanya bukan sebagai puisi, tapi sebagai prosa, prosa essay. Mengapa? Karena tulisannya tentang Balada Cinta Lena ini memenuhi unsur-unsur yang dimiliki sebuah prosa. Ada penokohan, ada alur, dan ada cerita. Menariknya lagi, dalam puisi ini, tersirat kekalutan sang penulis tentang perjuangan yang tengah ia lakoni dan penegasan tentang keberagamaan (bukan keberagaman)  yang ia samarkan. Tidak hanya itu, puisi ini juga sarat dengan kompleksitas yang saling bertubrukan, saling bersinggungan, dan menjalin satu sama lain dalam hidup penulis. Saya memilih kata ‘penulis’ karena, saya meyakini karya sastra ditulis berdasarkan pengalaman pribadi sang penulis, meskipun kemudian karya itu menjadi sangat universal. Pada prosa ini pula, Mono sangat piawai dalam proses “mengada dan menjadi” yang disebut-sebut dalam teori psikoanalisis Erich Fromm.
Bagaimana dalam satu bagian ia menjadi Maria, bagaimana tiba-tiba ia menjadi Yesus, lalu secara halus, ia kembali menjadi dirinya sendiri. Semua itu ia jalin dengan sangat halus, tanpa alur yang mengejutkan yang melompat. Semua alurnya linear dan sederhana. Justru ini menjadi kekuatan Mono dalam karya-karyanya.
Sama halnya yang ia tunjukkan pada puisinya yang berjudul Drupadi. Sekali Mono menunjukkan kemampuannya untuk memadukan cerita-cerita rakyat sebagai bahan pijakannya membuat puisi. Para tokoh dalam cerita rakyat ini, ia tafsirkan sedemikian rupa dan kemudian ia ‘bawa’ dalam konteks penindasan yang dialami para perempuan. Ini adalah kemampuan seorang penulis yang berangkat dari cerita untuk mengembangkan ide penulisannya dan membawanya dalam konteks kekinian. Ini wajar saja dilakukan oleh para penulis-dalam ranah manapun-, menjadikan sebuah cerita sebagai ilham. Saya menyebutnya sebagai proses pengayaan. Bukankah orang yang tidak pernah membaca akan ‘kering’ tulisannya?
Dalam puisi Drupadi, penulis sangat menghayati betul apa yang dialami Drupadi yang dijadikan barang taruhan oleh para Pandawa. Drupadi yang dituliskan Mono sangat membawa betul kondisi psikologis Drupadi yang notabene merupakan seorang perempuan, sementara penulis adalah lelaki. Tidak banyak penulis yang mampu melakukan “perpindahan” gender secara psikologis ini. Rata-rata para penulis hanya mampu menuliskan apa yang ia tulis berdasarkan gender psikologisnya. Seorang lelaki akan menulis sebuah fenomena melalui karya sastra berdasarkan ‘kelakiannya’, begitu pula sebaliknya.
….
….
Setan apa yang ada di otakmu
Hingga kau jadikan aku barang taruhan?[8]
…..
…..
Pada bagian lain, Mono dengan halus menarik kisah Drupadi dengan konteks kekinian, dimana para perempuan miskin di kota-kota besar harus menjual tubuhnya hanya untuk makan.
….
Aku, Drupadi yang kehilangan cinta dan perlindungan
Kemana aku harus mencari?
Di jalanan kota lebih tak aman
Perempuan-perempuan miskin
Dipaksa menari telanjang tanpa upah yang layak
Cuma cukup untuk makan
Agar esok malam cukup kuat menari telanjang[9]

Dan pada bagian akhir puisi Drupadi ini, Mono memunculkan alter ego keperempuanannya yang tahu bagaimana seharusnya bersikap. Mono memunculkan Drupadi sebagai sosok feminis yang tahu betul tentang daulat diri.
….
…..
….
Lelakiku! Lelakiku!
Air mata ini terlalu mahal untuk ditumpahkan di depanmu
Aku, Drupadi yang kehilangan cinta dan perlindungan
Kemana aku harus mencari?
Tentu tidak kepadamu [10]
(Jakarta, 10 Februari 2008)

Dalam kumpulan puisi yang merupakan Sterring Commite di Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (Jakker) ini, tidak melulu penuh dengan agitasi laiknya karya-karya yang ditulis para aktivis yang kebetulan memiliki kemampuan menulis karya sastra. Mono juga secara sederhana membuat beberapa puisi cinta, puisi tentang hubungan asmara antara dua anak manusia, meskipun masih dalam suasana perjuangan. Seperti dalam puisinya yang berjudul Kepadamu[11].
….
….
Biarkan cinta berlabuh
Di hati yang rindu
Kita kan mendayung jauh
Ke pulau abadi
(Depok, 1998)
Sebagai penyeimbang. Ya, puisi-puisi Mono dalam antologinya ini banyak sekali memiliki penyeimbang, agar para pembaca tidak mengalami “Kram otak” ketika membaca puisi-puisi yang sarat makna agitasi ini-kalau tidak boleh menyebutnya sebagai puisi perjuangan-.
Dalam satu puisi saja, Mono sudah melakukan penyeimbangan itu. Mono paham betul tentang konsep setiap hidup harus memiliki penyeimbang, seperti ada gelap ada terang, ada perempuan ada lelaki, ada yin ada yang. Contohnya dalam puisinya yang berjudul Sajak Perjuangan [12].

Bila aku tak kembali
Jangan ada rindu yang mencari
Jagalah api agar tak pdam
Ranting pun tak apa, Sayang
Bila aku tak kembali
Jangan ada sesal
Mengapa kulepas lelaki pergi
Jagalah hati agar nyali tak berlari
Bila aku tak kembali
Jangan ada tangis
Lelaki-lelaki lain pasti terlahir
Dan perjuangan tak berakhir
(Jakarta, 23 Februari 2001)
Terakhir, membaca antologi yang diterbitkan oleh Jakker di tahun 2008 ini, saya melihat seperti rumah, ada ruang tamu yang ia munculkan lewat prolog, ada ruang dalam yang berisi puisi-puisi, dan ada ruang belakang yang ia munculkan melalui epilog. Semuanya dalam bentuk puisi dan 3 prosa panjang (Drupadi, Lari, dan Balada Cinta Lena).
Pada Prolog, Mono menuliskan puisi yang dibuat oleh seorang kawan yang menjadi salah satu penggagas berdirinya organisasi mahasiswa ekstra kampus SMID, (alm) Andi Munajat. Puisi tersebut berjudul Benar yang telah digubah menjadi sebuah lagu yang dipopulerkan oleh Sebumi.
Benar kami hanya rakyat jelata
Tapi negeri inipun kami punya
Hak kami tak bisa kau rampas

Benar kami hanya buruh biasa
Tapi kami pun punya harga diri
             Tanpa kami…..
Dan pada epilog, Mono mencantumkan puisinya yang berjudul Uang. Saya melihatnya bukan tanpa alasan memilih puisi ini sebagai sebuah penutup antologinya. Saya melihat, Mono dengan tepat dan secara halus menyindir anak manusia yang menjadikan uang sebagai tujuan hidup mereka di dunia.
Uang [13]

Aku menyusuri jalanan kota
Kulihat langit mendung hitam berarak
Di antara lalu lalang orang-orang tergesa
Dan mereka yang mimpi: hujan uang segera tiba
…..
….

Membaca karya sastra, termasuk puisi adalah membaca makna, membaca apa yang ingin disampaikan penulis. Dengan bahasanya yang lugas, tapi masih bisa dinikmati sebagai sebuah puisi, Mono mencoba mengagitasi para pembacanya dengan sangat manis. Ini wajar, karena secara organisasi, penulis telah lama aktif di forum-forum demokrasi. Ia pun terlibat membidani beberapa organisasi masyarakat yang sangat peduli dengan perubahan di negeri ini. Sebagai seorang penulis, karya-karya Mono sangat dekat dengan apa yang disebut dengan realisme sosialis. Meskipun beberapa pihak menyebutkan mewujudkan masyarakat tanpa kelas di tengah menguatnya kapitalisme sebagai sebuah utopia, Mono masih meyakini apa yang ia impikan. Bahkan lelaki yang kini berjuang untuk masuk ke kancah parlementer melalui pencalegannya di PDIP di Dapil Kalsel 1 untuk DPR RI ini, secara halus mengatakan, “Bergeraklah kawan/jangan takut, kawan/mereka memanggil kita[14].” Mereka memanggil kita untuk berjuang. Mereka siapa? Buruh, tani, dan kaum miskin kota memanggil kita. Karena akulah kawanmu [15].
Biodata penulis resensi
Dewi Indra Puspitasari, penulis lepas dan pelancong yang kini tinggal secara nomaden di Jakarta.
———————————————–
[1] Hal 2
[2] Hal 23
[3] Hal 3
[4] Hal 27
[5] Hal 30-31
[6] Hal 5-7
[7] Hal 41-69
[8] Hal 5
[9] Hal 6
[10] Hal 7
[11] Hal 1
[12] Hal 22
[13] Hal 70-71
[14] Puisi Mereka Memanggil Kita, halaman 33
[15] Puisi Kepada Kawan, halaman 32


Sumber Artikel: http://www.berdikarionline.com/suluh/20131004/resensi-buku-kota-ini-penuh-kata.html#ixzz3dcIDoWQ4
Follow us: @berdikarionline on Twitter | berdikarionlinedotcom on Facebook

Senin, 15 Juni 2015

OKTOBER



Oktober adalah burung gagak
Ketika singgah di desaku
Banyak orang desa pergi tak kembali
Berharap ada keselamatan dan kehidupan
Entah di mana

Oktober adalah burung hantu
Yang selalu menghantui dalam mimpi-mimpi buruk
Ketika tiba
Dan pertanyaan yang menjadi refrain kesedihan
“Siapa yang mati, Kawan?”

Oktober adalah burung bangkai
Menari-nari atas nama pengkhianatan
Bergembira di atas nestapa kemanusiaan

Oktober adalah bulan tak diharap
Dan pesta yang berakhir

“Bukankah begitu, Kawan?”


Kota Benteng, 15 Juni 2015

Sabtu, 13 Juni 2015

Manusia Ideologis


untuk pos

Kau berjalan dalam sunyi
Ada rindu belum tuntas
Kau peluklah  puisi
Bukan sebagai doa tapi pembalasan

Di manakah letak keindahan?
“Pada manusia”
“Manusia macam apa?”
“Merdeka!”
Jawabmu

Kau tak lari dari sepi
Walau ada seribu pemburu tak berwajah
Kau peluklah sajak
Bukan untuk penghiburan tapi  perjuangan

Di manakah letak keindahan?
“Tetap manusia.”
“Manusia macam apa?”
“Yang berjuang.
Sebab tak ada kesia-siaan dalam perjuangan,”
 Jawabmu

Kau berkejaran dengan waktu
Begitu juga musuh-musuhmu?
Kau percaya pada akhir?
Mungkin juga musuh-musuhmu?
Lalu datang sang waktu

Di manakah letak keindahan?
“Tetap pada manusia”
“Manusia macam apa?”
“Manusia ideologis.
Yang sadar akan cita-citanya
 dan berjuang maximum,“
Jawabmu.


Kota Benteng, 13 Juni 2015

Jumat, 12 Juni 2015

K A W A N



Kita masih di langit yang sama
Walau beda nasib
Siapakah yang tentukan nasib?
Tentu bukan Tuhan yang maha pengasih
Kita sendiri ya kita sendiri
Sebagaimana  QS 13:11
Yang kau yakini

Kita masih satu matahari
Walau beda penghidupan
Apa  yang menentukan penghidupan?
Tentu tak hanya doa-doa seindah puisi dan sajak
Tapi juga kerja
Sebagaimana para rahib meyakini: Ora et Labora

Kata-kata berbusa-busa tetap tak bertuah
Mulut mengejar kerja
Tak akan pergi bulan dan bintang
Kata-kata tenggelam dalam sunyi-senyap
Menanti  juru selamat?
Tidak!


Kata-katamu tak bersayap
Pada yang harus dibenci atau dicinta
Awas pada penindasan dan siap pada penghisapan
Kau menamakan kehidupan ini adalah perjuangan
Aku memanggilmu:
Kawan!



Kota Benteng, 12 Juni 2015