Selasa, 15 September 2015

Legenda Filsafat

Untuk Herakleitos dan Bung Karno

Aku tak  ingin menjadi  penghibur
Menyalakan lilin di pesta poramu
Yang kau pikir abadi

Aku ingin menyalakan api
Di gubuk orang-orang miskin
Yang panasnya membakar
Gedung-gedung keangkuhanmu

Lalu kamu berpikir  tentang keberadaan
Benarkah Tuhan  bersemayam
Di gubuk orang-orang miskin?

Di malam yang pengecut
Kamu letakkan api keserakahan di gubuk si miskin
Orang-orang miskin menjerit
Karena Tuhan telah diusir
Hingga di pagi yang cerah
Orang-orang miskin membaca:

DILARANG MENDIRIKAN BANGUNAN APAPUN  DI ATAS TANAH NEGARA

Orang-orang miskin mulai memunguti sisa
Orang-orang kaya mulai  mengumpulkan kelebihan

Di malam yang dingin
Dari lantai yang tak terjamah
Kamu melihat tarian api di gubuk si miskin
Di atas tanah Negara

Kau pun mendengar alunan lagu lama
Merayu menyeru tentang perubahan
Berulang-ulang bagaikan litani keabadian:
Segala sesuatu berasal dari  api!


Kota Bumi,  15 September 2015

Selasa, 25 Agustus 2015

Kepada Anna Ivanova

  
Aku mencintaimu, Anna
Di setiap waktu yang kumiliki
Di setiap jalan yang kutempuh

Oh kapuk randu kapuk randu
Aku rindu padamu, Anna      
Bertumpuk-tumpuk setiap kali
Kulihat Bendera Merah menari
Bersama bara api Internasionale

Hanya  negeriku belum merdeka!

Aku pulang setelah pemberontakan yang kalah
Tapi jelas bagiku dan bagimu, Anna
Tidak mengalahkan semangat bangsaku untuk merdeka!

Kembang Tanjung oh Kembang Tanjung
Semerbak harummu di pagi hari
Membuatku ingin berlari padamu
Hanya negeriku belum merdeka!
Aku tak bisa berpaling dari panggilan negeri
 Jadikanlah ini dongeng sebelum tidur
untuk putri kita, Sayang
: Sumira Dingli

Aku mencintaimu, Anna
Hanya negeriku belum merdeka!

 Iwa Koesoemasoemantrimu
di mana saja



Selasa, 30 Juni 2015

Gelisahmu Adalah Matahari


Justin,

Gelisahmu adalah matahari
Mengusir kegelapan dari sarangnya
Sampai  fajar merah tiba

Di Blangguan
Kau bela petani yang tanahnya dirampas tentara laut
Tapi ia datang padamu seperti  iblis
Yang meyakinkan dirimu karena
gelisahmu adalah juga pada kebenaran kata dan tindakan
Ini bukan Orde Baru tapi Orde Palsu

Kau disiksa, disetrom
Ditendang dan dipukul
Ditelanjangi
Seperti Yesusmu yang membela orang-orang tertindas
“Emanuel!”

Kita pun mengangkat keranda orang mati untuk menyatakan kehidupan

Gelisahmu adalah bintang pagi
yang tak menyesatkan jalan musafir
Ketika kita berdiskusi soal rencana-rencana baik kita ke depan
Bagaikan kehidupan surgawi yang dijanjikan orang-orang beriman
Serta doa yang dikabulkan
Di atas bumi seperti di dalam surga

Aku pun ikut kamu sebagai juru selamat ketika organisasi kita pecah

Gelisahmu adalah rembulan di malam gulita
Ketika anak-anak riang gembira dalam permainan
Sementara ayah-bunda memadu kasih untuk generasi yang lebih baik
Kita pun bermain teater bukan untuk aktor tapi ator
Dengan cara itulah kita hendak menggulingkan penguasa

Sesudah pemberontakan berdarah di  kandang Banteng
Aku dan kau menjadi rahasia
Aku pun ingat pesan kawanmu:
“Klandestin. Tidak ada orang yang tidak bisa diorganisasikan
 bahkan  orang-orang di  istana Sang Jendral”

Sesudah Sang Jendral tak lagi menjadi rahasia
Kita masih menjadi rahasia

Sampai kini

Sesudah delapan ribu tiga puluh hari matahari  
Gelisahmu adalah  matahari
Yang dahulu juga
Kegelisahan Bung Kita

Revolusi memang belum selesai


Kota Bumi, 30 Juni 2015

Sabtu, 27 Juni 2015

Sajak Cinta


buat  dn

Sajakmu sajak cinta
Pada  orang-orang terbuang
Karena keserakahan
Pada orang-orang terkutuk
Karena berbeda
Pada orang-orang  putus asa
Karena kelahiran

Bersama orang-orang yang menuntut
Karena  keadilan dan kemanusiaan
Kau tak segan  maju ke muka
Dengan parang!


Kota Bumi, 27 Juni 2015

'Seni menyelamatkan hidup saya...'


Bisnis Indonesia, Jumat, 09-APR-2010

Berkecimpung di dunia kese­nian memang belum mem­buat AJ Susmana bergeli­mang harta. Namun, seni telah membawa anak Klaten ini menyam­bangi negeri tetangga. Seni pula yang menyelamatkan hidupnya dari kejaran aparat negara pascaperistiwa 27 Juli 1996 (Kudeta Dua Tujuh Juli/Kudatuli).

Mono, panggilan akrab AJ Susma­na, pada 1994 bertolak ke Australia mewakili Jaringan Kerja Kesenian Rakyat (Jaker) mengikuti Indian Ocean Trade Union Conference Cultural Network di Perth.

Di sela-sela pertemuan itu, laki-laki kelahiran Klaten, 20 November 1971 ini menggelar aksi teatrikal semi monolog. "Meski spontan tanpa latihan, aksi itu mendapat apresiasi ratusan hadirin perwakilan lebih dari 20 negara," katanya.

Cukup sederhana, dia menyusun beberapa buah meja bertingkat-ting­kat di panggung. Masing-masing tingkat ditempeli kertas besar be­r­tuliskan feodalisme, kapitalisme, imperealisme. Lalu, dia memukul-mu­kul piring dengan sendok sambil berteriak hungry!. Irama­nya naik tu­run. Pelan, la­lu lama-lama ken­cang.

Tanpa diperintah, penonton ikut memu­kul benda di sekitarnya sem­bari berteriak hungry. Saat seisi ge­dung bergemuruh, Mono meronta-ronta meruntuhkan meja yang tadi ter­su­sun. Meja itu ambruk dan Mo­no me­ngepalkan tinju. Di badannya ter­gan­tung kertas bertuliskan sosial­is­me.

Tahun itu, Jaker diketuai oleh Wiji Tukul, penyair asal Solo yang hingga kini belum diketahui di mana rimbanya. Mono sendiri menjabat sebagai sekjen. "Itulah pertama kali saya ke luar negeri. Sebenarnya tak habis pikir, anak kampung kok bisa keluar negeri," ujarnya seraya melempar senyum.

Dua tahun berikutnya, begitu peristiwa 27 Juli 1996 meletus, rezim Orde Baru menyatakan Partai Rakyat Demokratik (PRD) dan organ sekawannya, termasuk Jaker sebagai organisasi terlarang. Para aktivisnya diburu, termasuk Mono.

Saat saya temui beberapa hari lalu di markas Sanggar Satu Bumi yang dikelolanya di bilangan Tebet, Jakar­ta Selatan, pria berambut ikal ini me­ngaku sewaktu menjadi buru­an apa­rat negara pasca-Kudatuli diri­nya ter­tolong oleh ilmu seni yang di­miliki.

"Waktu itu saya kabur ke Bogor, tanpa tahu ke mana dan siapa yang akan dituju. Tapi saya terus berjalan hingga sampailah di kampus Universitas Juanda," paparnya mengenang masa lampau. Kini sorot matanya yang tajam berubah sembab.

Dalam hati dia bergu­mam "Seper­tinya kampus ini cukup aman untuk bersembunyi." Mono pun berkenalan dengan beberapa mahasiswa. Alha­sil, tidak butuh waktu lama baginya sehingga mampu men­dorong maha­siswa mendi­rikan kelompok teater.

Komunitas itu kemudian menjadi Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Lentera di Universitas Juanda. Mono orang pertama yang mengajar teater di sana. "Istilahnya sambil me­nyelam minum air. Sambil bersem­bunyi, mengasah ilmu dan bertahan hidup," kenangnya.

Hingga hari ini, teater Lentera te­tap menyala di Bogor. Hingga hari ini pula, tulisan, mantan ketua Fo­rum Seni Budaya Retorika Filsafat Universitas Gadjah Mada ini bertebaran di kolom seni budaya surat kabar lokal maupun nasional.

Sejumlah buku sastra telah lahir dari tangan dinginnya a.l kumpulan puisi Kota Ini Ada Di Tubuhmu (November 2008), kumpulan cerita pendek Perempuan Tangguh (April 2009), esai-esai untuk kemandirian bangsa Mengobarkan Kembali Perang Kemerdekaan (Juni 2009).

Penggubah lagu

Produktivitasnya di dunia seni tak hanya sebatas menulis dan berteater. Mono juga terampil menggubah pui­si menjadi lagu. Lagu gubahan­nya se­ring disenandungkan kalangan ak­ti­vis parlemen jalanan hingga penga­men jalanan.

Puisi fenomenal yang di­gubahnya, seperti Peringatan dan Nya­nyian Akar Rumput karya Wiji Tukul, Benar karya Andi Munajat, Barisan Ibu karya Agus Jabo dalam antologi puisi Negeriku, Tuhan Tu­run­­lah Ke Sini karya Yanti Irawan, dalam antologi puisi Ibu, Maaf Aku Nakal.

Menurut dia, nyanyian adalah bagian tidak terpisahkan dari manu­sia. "Manusia mana yang tidak suka musik? Terlepas dari perbedaan gen­renya, itu soal selera. Puisi yang saya gubah menjadi lagu, hanya puisi yang menurut saya punya ke­kuatan mem­bang­kitkan sema­ngat pem­be­basan kaum tertindas."

Kini, AJ Sus­mana tetap ber­karya da­lam kesederha­na­annya. Bersama kawan-kawan di Sang­gar Satu Bumi, dia bersiap men­dirikan Aka­­demi Kebu­dayaan Wiji Tukul dan sebuah pementasan teater akbar dengan melibatkan sejumlah selebritas. (redak­si­@bis­nis.co.id)

Oleh Wenri Wanhar
Kontributor Bisnis Indonesia

http://www.bisnis.com/servlet/page?_p...

Kamis, 25 Juni 2015

Kota Ini Ada di Tubuhmu


No ISBN: 9789791895002
Penerbit: JAKER
Tahun 2008
Soft Cover
harga Rp 25.000,
sms pesan: 08176546427, pin: 28FEF142


"Kerisauan" dan "harapan-harapan" merupakan dua tema besar yang bisa dirasakan pada puisi-puisi AJ Susmana(AJS). Dua poin ini selalu membingkai materi-materi puisinya yang beragam: tentang cinta, perempuan, "Aku", seseorang atau sesuatu dalam fantasi, religiusitas, rakyat, politik, ekonomi, sejarah, dll. Asosiasi atau nuansa puisi-puisi AJS cukup kuat karena padanan dan pilihan kata "yang tak terukur" bisa diolahnya dalam rangkaian pengalaman keseharian kita yang tak asing. Beberapa puisinya memang verbal karena mengedepamklan kritik-langsung berlatar realisme-sosial. Namun, ini b ukan cacat, melainkan pilihan situasional dan lapisan pembaca atau penyuka puisi semacam ini pun dipastikan selalu ada.

Mulyadi J. Amalik, penyair dan peneliti sosial



Membaca sajak-sajak ini seperti mendapat instruksi dari jiwa. Menimbang...,Mengingat..., maka berangkatlah ke medan juang. Jangan kembali sebelum selesai.

Dominggus Oktovianus, Ketua Umum FNPBI


Gambaran kegelisahan atas kondisi sosial yang disentuh dengan balada cinta.Lumayan, ada nuansa religinya...

Faridha Hidayati, Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro