Rabu, 16 Desember 2015

Sungai Cirarab

Sungai Cirarab
mengalir persis di belakang rumah yang kukontrak
bau menyengat berwarna hitam
seakan memberi pesan
dari pabrik-pabrik yang gelisah dilewatinya tanpa permisi
dan rakyat Sungai Cirarab yang semakin suram
  
"Sebelum kamu ada, aku  bermain, memandikan  dan membesarkan anak-anak Cirarab dengan saling membahagiakan. Nasibku yang gelap bau sekarang barangkali senasib dengan buruh-buruh yang tak rela memeras keringat untuk kenikmatanmu semata, juga rakyat tanpa kerja, mereka yang telah kehilangan pekerjaan dan hidup tanpa  jaminan sosial"

Sungai Cirarab
sepanjang tahun-tahun yang kukenal
hingga hari ini
tak berubah
Selalu mengaduh dan mengeluh 
sebagaimana buruh-buruh yang berjuang  
menuntut perbaikan upah dan kondisi kerja

Sungai Cirarab
mengalir lesu
tak berdaya tak tahu kemana mengadu
masih saja orang-orang yang tak  mengenal kebaikannya 
melemparkan sampah tanpa mantra dan doa-doa keselamatan
sebagaimana dahulu para leluhur mengajarkan

Sungai Cirarab
menunggu hari pembalasan
sebagaimana Perahu Nuh akan berlayar
sebagaimana buruh-buruh dan rakyat senasib percaya
pada datangnya pembalasan.
Rakyat yang menjadi hakim!


Kamis, 19 November 2015

Kembali pada Puisi

Oleh AJ Susmana 


SECARA metode, tidaklah sulit untuk memahami hati suatu bangsa. Cukuplah kiranya kalau mau dengan susah payah memahami puisi-puisi yang diucapkan, ditulis, dibaca dan dilagukan oleh bangsa tersebut.  Melalui puisi-puisi tersebut akan didapat pengetahuan suka-duka kolektif suatu bangsa yang mengarungi jaman beserta ketakutan dan kegembiraan melihat masa depan.

Puisi-puisi itu pun bisa berupa peribahasa dan pesan-pesan didaktik sebagaimana bisa kita baca pada Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji atau juga Kitab Nyanyian, antologi puisi pertama dalam sejarah China meliputi periode selama 5 abad dari awal Dinasti Zhou Barat abad ke-11 SM hingga pertengahan Periode Musim Semi dan Musim Gugur abad ke-6 SM. Konon pada mulanya terdiri dari 3000-an puisi; lantas diseleksi Confusius menjadi 305 puisi. (lihat: Li Xiaoxiang, Asal Mula Sastra China Klasik, Elex Media Komputindo, Jakarta, 2010;6) Info lain menyebutkan, semula hasil seleksi Confusius berjumlah 311 puisi. Enam puisi hilang waktu terjadi pembakaran kitab.

Sebegitu pentingkah puisi? Ketika sudah begitu banyak dihadirkan bentuk seni pun sastra terutama prosa seperti cerita pendek dan novel yang begitu bergengsi di mata masyarakat dan lebih mendapatkan tempat dalam masyarakat Industri;  dengan  begitu juga bisa dikapitalisasi lebih cepat? Jawabannya: iya. Kalau tidak ingin kehilangan sejarah  dan sumber-sumber pengetahuan  dari para pendahulu, haruslah juga kembali pada puisi. Ketika masyarakat atau bangsa sudah tidak mengenali lagi puisi, tentu akan sulit kembali pada jalan puisi yang pernah ditempuh nenek-kakek moyang. Tanpa puisi, kehidupan memang tetap berjalan tetapi sudah jelas akan banyak pengetahuan yang hilang lenyap begitu saja. Tak kurang dari Ibnu Khaldun, cendekiawan muslim abad pertengahan, dalam Mukaddimah mengingatkan  bahwa syair merupakan kumpulan catatan bangsa Arab. Di dalamnya terdapat ilmu pengetahuan, informasi, dan falsafah-falsafah hidup mereka (Mukaddimah, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 2001;1072).

Hal yang sama juga terjadi pada bangsa-bangsa di Nusantara. Dari Pustaka Jawa Kuna atau Kawi, yang ditulis dalam bentuk (puisi) Kakawin misalnya Arjunawiwaha karya Mpu Kanwa, Kresnayana karya Mpu Triguna, Sumanasantaka karya Mpu Manoguna, Smaradahana karya Mpu Dharmaja, Bhomakawya pengarang tak diketahui, Bharatayudha karya Mpu Sedah dan Mpu Panuluh, Hariwangsa karya Mpu Panuluh, Gathotkacasraya karya Mpu Panuluh, Wrettasancaya karya Mpu Tan Akung, Lubdaka karya Mpu Tan Akung, Brahmandapurana pengarang tak diketahui, Kunjarakarna pengarang tak diketahui, Negarakretagama karya Mpu Prapanca, Arjunawijaya karya Mpu Tan Tular, Sutasoma karya Mpu Tan Tular, Parthayajna pengarang tak diketahui, Nitisastra pengarang tak diketahui, Nirarthaprakreta pengarang tak diketahui, Dharmasunya pengarang tak diketahui dan  Harisraya pengarang tak diketahui.

Puisi-puisi bentuk Kakawin itu terentang dari awal abad ke-11 M, jaman Raja Airlangga sampai pertengahan  abad ke-16 M. Semboyan dan landasan persatuan nasional kita ketika mendirikan Republik Indonesia: Bhineka Tunggal Ika adalah baris puisi yang dikutip dari Kakawin Sutasoma karya Mpu Tan Tular, yang hidup pada masa Kerajaan Majapahit, abad ke-14 M. Pelajaran dari Mpu Tantular mengenai keharusan saling menghargai antar umat yang berbeda keyakinan serasa mendesak kemuka ketika masih saja sampai sekarang terjadi konflik antar umat beragama di Indonesia. Bentuk Kakawin inilah yang merangsang W.S. Rendra empat abad kemudian di masa Kemerdekaan, menulis  puisi cintanya dengan memberi judul Kakawin Kawin yang terdapat dalam Empat Kumpulan Sajak, 1961. Ini menjelaskan hubungan atau perasaan Penyair Rendra yang begitu dekat dengan tradisi berpuisi para leluhurnya walau tak harus menggunakan metrum dan guru laghu sebagaimana dalam Kakawin.

***

Kematian puisi bagi suatu bangsa atau masyarakat tentu menggelisahkan. Pada Film Dead Poets Society, 1989 kita bisa belajar bagaimana puisi sebaiknya diajarkan dan bagaimana puisi menggerakkan kehidupan dan  menjadikan murid yang jujur dan berani menghadapi keadaan. Menghalangi puisi justru berujung pada kemandegan. Pada film Poetry, 2010 garapan Lee Chang-dong pun kita dihadapkan pada hal yang sama: bagaimana puisi mesti dituliskan dan kejujuran dalam kehidupan.

Sejatinya menghidupkan puisi adalah menyatukan perasaan manusia sepanjang sejarah dalam membangun peradaban; yang menjadikan manusia menjadi semakin manusiawi. Tak tinggal menjadi binatang atau pun tak berhati seperti mesin. Begitulah sejarah evolusi manusia. Karena itu revolusi mental membangun negeri haruslah juga menghidupkan puisi. Memberikan pelajaran puisi sejak dini dalam artian usia pun juga kepada masyarakat awam yang sedari dini tidak mengenal puisi adalah bagian dari kerja-kerja kebudayaan yang tak bisa ditinggalkan. Untuk itu Pemerintah  harus juga mengambil tanggung-jawab dan terlibat penuh dalam proyek ini dengan membuka pusat-pusat kebudayaan yang mengapresiasi puisi seperti mendukung penerbitan terkait puisi baik lama atau pun baru dan membuat puisi hadir dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. n

AJ Susmana, Anggota Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat -JAKER

Sumber: Fajar Sumatera, Kamis, 19 November 2015

http://ulunlampung.blogspot.co.id/2015/11/kembali-pada-puisi.html

Selasa, 15 September 2015

Legenda Filsafat

Untuk Herakleitos dan Bung Karno

Aku tak  ingin menjadi  penghibur
Menyalakan lilin di pesta poramu
Yang kau pikir abadi

Aku ingin menyalakan api
Di gubuk orang-orang miskin
Yang panasnya membakar
Gedung-gedung keangkuhanmu

Lalu kamu berpikir  tentang keberadaan
Benarkah Tuhan  bersemayam
Di gubuk orang-orang miskin?

Di malam yang pengecut
Kamu letakkan api keserakahan di gubuk si miskin
Orang-orang miskin menjerit
Karena Tuhan telah diusir
Hingga di pagi yang cerah
Orang-orang miskin membaca:

DILARANG MENDIRIKAN BANGUNAN APAPUN  DI ATAS TANAH NEGARA

Orang-orang miskin mulai memunguti sisa
Orang-orang kaya mulai  mengumpulkan kelebihan

Di malam yang dingin
Dari lantai yang tak terjamah
Kamu melihat tarian api di gubuk si miskin
Di atas tanah Negara

Kau pun mendengar alunan lagu lama
Merayu menyeru tentang perubahan
Berulang-ulang bagaikan litani keabadian:
Segala sesuatu berasal dari  api!


Kota Bumi,  15 September 2015

Selasa, 25 Agustus 2015

Kepada Anna Ivanova

  
Aku mencintaimu, Anna
Di setiap waktu yang kumiliki
Di setiap jalan yang kutempuh

Oh kapuk randu kapuk randu
Aku rindu padamu, Anna      
Bertumpuk-tumpuk setiap kali
Kulihat Bendera Merah menari
Bersama bara api Internasionale

Hanya  negeriku belum merdeka!

Aku pulang setelah pemberontakan yang kalah
Tapi jelas bagiku dan bagimu, Anna
Tidak mengalahkan semangat bangsaku untuk merdeka!

Kembang Tanjung oh Kembang Tanjung
Semerbak harummu di pagi hari
Membuatku ingin berlari padamu
Hanya negeriku belum merdeka!
Aku tak bisa berpaling dari panggilan negeri
 Jadikanlah ini dongeng sebelum tidur
untuk putri kita, Sayang
: Sumira Dingli

Aku mencintaimu, Anna
Hanya negeriku belum merdeka!

 Iwa Koesoemasoemantrimu
di mana saja



Selasa, 30 Juni 2015

Gelisahmu Adalah Matahari


Justin,

Gelisahmu adalah matahari
Mengusir kegelapan dari sarangnya
Sampai  fajar merah tiba

Di Blangguan
Kau bela petani yang tanahnya dirampas tentara laut
Tapi ia datang padamu seperti  iblis
Yang meyakinkan dirimu karena
gelisahmu adalah juga pada kebenaran kata dan tindakan
Ini bukan Orde Baru tapi Orde Palsu

Kau disiksa, disetrom
Ditendang dan dipukul
Ditelanjangi
Seperti Yesusmu yang membela orang-orang tertindas
“Emanuel!”

Kita pun mengangkat keranda orang mati untuk menyatakan kehidupan

Gelisahmu adalah bintang pagi
yang tak menyesatkan jalan musafir
Ketika kita berdiskusi soal rencana-rencana baik kita ke depan
Bagaikan kehidupan surgawi yang dijanjikan orang-orang beriman
Serta doa yang dikabulkan
Di atas bumi seperti di dalam surga

Aku pun ikut kamu sebagai juru selamat ketika organisasi kita pecah

Gelisahmu adalah rembulan di malam gulita
Ketika anak-anak riang gembira dalam permainan
Sementara ayah-bunda memadu kasih untuk generasi yang lebih baik
Kita pun bermain teater bukan untuk aktor tapi ator
Dengan cara itulah kita hendak menggulingkan penguasa

Sesudah pemberontakan berdarah di  kandang Banteng
Aku dan kau menjadi rahasia
Aku pun ingat pesan kawanmu:
“Klandestin. Tidak ada orang yang tidak bisa diorganisasikan
 bahkan  orang-orang di  istana Sang Jendral”

Sesudah Sang Jendral tak lagi menjadi rahasia
Kita masih menjadi rahasia

Sampai kini

Sesudah delapan ribu tiga puluh hari matahari  
Gelisahmu adalah  matahari
Yang dahulu juga
Kegelisahan Bung Kita

Revolusi memang belum selesai


Kota Bumi, 30 Juni 2015

Sabtu, 27 Juni 2015

Sajak Cinta


buat  dn

Sajakmu sajak cinta
Pada  orang-orang terbuang
Karena keserakahan
Pada orang-orang terkutuk
Karena berbeda
Pada orang-orang  putus asa
Karena kelahiran

Bersama orang-orang yang menuntut
Karena  keadilan dan kemanusiaan
Kau tak segan  maju ke muka
Dengan parang!


Kota Bumi, 27 Juni 2015

'Seni menyelamatkan hidup saya...'


Bisnis Indonesia, Jumat, 09-APR-2010

Berkecimpung di dunia kese­nian memang belum mem­buat AJ Susmana bergeli­mang harta. Namun, seni telah membawa anak Klaten ini menyam­bangi negeri tetangga. Seni pula yang menyelamatkan hidupnya dari kejaran aparat negara pascaperistiwa 27 Juli 1996 (Kudeta Dua Tujuh Juli/Kudatuli).

Mono, panggilan akrab AJ Susma­na, pada 1994 bertolak ke Australia mewakili Jaringan Kerja Kesenian Rakyat (Jaker) mengikuti Indian Ocean Trade Union Conference Cultural Network di Perth.

Di sela-sela pertemuan itu, laki-laki kelahiran Klaten, 20 November 1971 ini menggelar aksi teatrikal semi monolog. "Meski spontan tanpa latihan, aksi itu mendapat apresiasi ratusan hadirin perwakilan lebih dari 20 negara," katanya.

Cukup sederhana, dia menyusun beberapa buah meja bertingkat-ting­kat di panggung. Masing-masing tingkat ditempeli kertas besar be­r­tuliskan feodalisme, kapitalisme, imperealisme. Lalu, dia memukul-mu­kul piring dengan sendok sambil berteriak hungry!. Irama­nya naik tu­run. Pelan, la­lu lama-lama ken­cang.

Tanpa diperintah, penonton ikut memu­kul benda di sekitarnya sem­bari berteriak hungry. Saat seisi ge­dung bergemuruh, Mono meronta-ronta meruntuhkan meja yang tadi ter­su­sun. Meja itu ambruk dan Mo­no me­ngepalkan tinju. Di badannya ter­gan­tung kertas bertuliskan sosial­is­me.

Tahun itu, Jaker diketuai oleh Wiji Tukul, penyair asal Solo yang hingga kini belum diketahui di mana rimbanya. Mono sendiri menjabat sebagai sekjen. "Itulah pertama kali saya ke luar negeri. Sebenarnya tak habis pikir, anak kampung kok bisa keluar negeri," ujarnya seraya melempar senyum.

Dua tahun berikutnya, begitu peristiwa 27 Juli 1996 meletus, rezim Orde Baru menyatakan Partai Rakyat Demokratik (PRD) dan organ sekawannya, termasuk Jaker sebagai organisasi terlarang. Para aktivisnya diburu, termasuk Mono.

Saat saya temui beberapa hari lalu di markas Sanggar Satu Bumi yang dikelolanya di bilangan Tebet, Jakar­ta Selatan, pria berambut ikal ini me­ngaku sewaktu menjadi buru­an apa­rat negara pasca-Kudatuli diri­nya ter­tolong oleh ilmu seni yang di­miliki.

"Waktu itu saya kabur ke Bogor, tanpa tahu ke mana dan siapa yang akan dituju. Tapi saya terus berjalan hingga sampailah di kampus Universitas Juanda," paparnya mengenang masa lampau. Kini sorot matanya yang tajam berubah sembab.

Dalam hati dia bergu­mam "Seper­tinya kampus ini cukup aman untuk bersembunyi." Mono pun berkenalan dengan beberapa mahasiswa. Alha­sil, tidak butuh waktu lama baginya sehingga mampu men­dorong maha­siswa mendi­rikan kelompok teater.

Komunitas itu kemudian menjadi Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Lentera di Universitas Juanda. Mono orang pertama yang mengajar teater di sana. "Istilahnya sambil me­nyelam minum air. Sambil bersem­bunyi, mengasah ilmu dan bertahan hidup," kenangnya.

Hingga hari ini, teater Lentera te­tap menyala di Bogor. Hingga hari ini pula, tulisan, mantan ketua Fo­rum Seni Budaya Retorika Filsafat Universitas Gadjah Mada ini bertebaran di kolom seni budaya surat kabar lokal maupun nasional.

Sejumlah buku sastra telah lahir dari tangan dinginnya a.l kumpulan puisi Kota Ini Ada Di Tubuhmu (November 2008), kumpulan cerita pendek Perempuan Tangguh (April 2009), esai-esai untuk kemandirian bangsa Mengobarkan Kembali Perang Kemerdekaan (Juni 2009).

Penggubah lagu

Produktivitasnya di dunia seni tak hanya sebatas menulis dan berteater. Mono juga terampil menggubah pui­si menjadi lagu. Lagu gubahan­nya se­ring disenandungkan kalangan ak­ti­vis parlemen jalanan hingga penga­men jalanan.

Puisi fenomenal yang di­gubahnya, seperti Peringatan dan Nya­nyian Akar Rumput karya Wiji Tukul, Benar karya Andi Munajat, Barisan Ibu karya Agus Jabo dalam antologi puisi Negeriku, Tuhan Tu­run­­lah Ke Sini karya Yanti Irawan, dalam antologi puisi Ibu, Maaf Aku Nakal.

Menurut dia, nyanyian adalah bagian tidak terpisahkan dari manu­sia. "Manusia mana yang tidak suka musik? Terlepas dari perbedaan gen­renya, itu soal selera. Puisi yang saya gubah menjadi lagu, hanya puisi yang menurut saya punya ke­kuatan mem­bang­kitkan sema­ngat pem­be­basan kaum tertindas."

Kini, AJ Sus­mana tetap ber­karya da­lam kesederha­na­annya. Bersama kawan-kawan di Sang­gar Satu Bumi, dia bersiap men­dirikan Aka­­demi Kebu­dayaan Wiji Tukul dan sebuah pementasan teater akbar dengan melibatkan sejumlah selebritas. (redak­si­@bis­nis.co.id)

Oleh Wenri Wanhar
Kontributor Bisnis Indonesia

http://www.bisnis.com/servlet/page?_p...